Karangan Bebas

Amirah Tujuh Bulan

27 September 2018

Amirah tertidur. Ia kelelahan setelah menemani saya ke minimarket dekat mess tempat tinggal kami di Bali. Saya menggendong Amirah sambil menyusuri teriknya matahari, ia sabar.

Tangan saya tak hentinya melindungi dari sinar matahari, tangan belang tak mengapa asalkan ia aman, hingga akhirnya jilbab saya dipakai tuk melindunginya. MasyaAllah tabarakallah ia tetap tenang menemani saya berbelanja.

Kemarin, ia genap berusia 7 bulan. Saya perlu merayakan dengan menunggu Amirah lelap dalam tidurnya agar bisa bercerita, melalui tulisan blog, lebih banyak, demi membersihkan debu-debu blog karena sudah lama tidak diperbarui postingannya.

….

Lama terdiam. Bingung harus memulai dari mana.

….
Sudah waktunya shalat dhuhur, saya sholat dulu ya, insyaAllah segera dilanjut. Saya selalu teringat kenangan saat membantu mama mertua di dapur. “Kalau Amirah tidur dan sudah masuk waktu shalat, segeralah shalat,” ujar mama mertua menasehati saya.

….

Nah, lanjut lagi. Amirah masih tidur dan inspirasi tetiba bermunculan setelah memakan sebuah jeruk manis.

Sejak dititipi Amirah, oleh Allah SWT, saya jadi punya panggilan baru, yakni umminya Amirah. Saya butuh waktu lama tuk menerima “ummi” sebagai panggilan ibu buat Amirah. Saya memanggil nenek dengan sebutan Nenek Ummi, terkenal dengan sikapnya yang suka memberi saya uang jajan tambahan, namun suka ngomel pada siapapun yang membuatnya jengkel. Saya cuma khawatir mewarisi sikapnya. Semoga hanya sebatas kekhawatiran. Semoga saya dilimpahkan kesabaran.

Saya senang. Kini tak perlu takut lagi jika abinya Amirah telat pulang kantor. Ada Amirah yang jadi penenang hati. Sejak kecil, saya paling takut berada sendirian di rumah. Selalu terbayang berita kriminal yang sering ditonton Bapak. Seakan-akan hal itu akan terjadi pada saya juga. Gara-gara saya suka menemani Bapak menonton siaran berita favoritnya. Saat itu saya tak tahu bahwa anak kecil sebaiknya tak menonton hal tersebut. Tak sesuai umur.

Tak ada yang mengajar tuk meregulasi rasa takut tersebut, hingga kini saya belum bisa berani. Padahal ada Allah SWT yang selalu menjaga kita. Sekarang perlahan mulai belajar meregulasinya agar bisa membantu Amirah ketika merasakan hal yang sama.

Kembali ke topik Amirah berusia 7 bulan. Kini ia telah lulus fase asi ekslusif selama 6 bulan, pencapaian luar biasa atas target saya tuk menyusuinya meski berada di lingkungan keluarga yang pro susu formula. Saya minum susu formula sejak lahir, karena itu saya ingin anak saya menikmati kelezatan air susu ibunya.

Menyusui membantu saya membangun kelekatan dengan Amirah. Saya tak berpengalaman mengurus bayi, bahkan cara menggendong saat menyusui pun baru saya pelajari di hari kedua Amirah lahir, saat mantan teman-teman kantor menjenguk saya.
Amirah terbangun, nanti lanjut lagi ya kalau sudah menyusui.

“Tidak pernah ki gendong bayi?” celetuk mantan teman kantor saat geram melihat tangan kaku saya belajar menyusui Amirah. Bukan ia sih yang mengajari saya. Untung saja, teman yang lain masih sabar menghadapi kebingungan saya.T

Terkadang saya sedih karena Amirah lahir dan tumbuh bersama umminya yang tak cekatan sama sekali. Namun, di sisi lain saya bersyukur sebab Amirah mendapat kehormatan merasakan semua pengalaman pertamanya bersama saya. Kami sama-sama belajar, saling menerima keberadaan masing-masing.

Ia juga senantiasa menegarkan saya kala sedih karena komentar tak positif orang lain terkait cara saya memperlakukannya. Kalau begitu, ia akan minta digendong lebih lama, seakan ingin memeluk saya lebih erat.

Semoga Amirah diberkahi akhlak-akhlak mulia, dilembutkan hatinya, dan menjalani hidup sesuai fitrahnya sehingga kelak bisa masuk surga. Aamiin.

You Might Also Like

1 Comment

Leave a Reply