Apa Ciri Khas Kehamilan Trimester Pertama ?

Apa Ciri Khas Kehamilan Trimester Pertama ?

By : -

Apa Ciri Khas Kehamilan Trimester Pertama ?

“Siapa yang senang jika mendapati dua garis pada hasil pemeriksaan testpack kehamilan?”

Mendapati dua garis pada hasil pemeriksaan testpack kehamilan bisa jadi acuan tuk segera berkonsultasi ke Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi atau yang dikenal dengan istilah Dokter Ahli kandungan.

Kita tak perlu lagi khawatir dengan pertanyaan mencekam, seperti :

“Sudah hamil atau belum?”

“Bagaimana hasil perjuangan? Sudah berhasil?”

“Apakah sudah ada tanda-tanda calon ponakan?”

dan pertanyaan sejenis lainnya.

Dini hari, sahur terakhir Ramadhan tahun 2017. Saya coba melakukan testpack dengan urine pertama hari itu. Penasaran, kenapa belum ada puasa bolong karena haid, padahal menjelang lebaran. Jadwal haid yang semestinya, telah lewat lima hari.

Itu adalah lali pertama saya menggunakan testpack. Hasilnya muncul begitu cepat. Dua garis. Saya membangunkan suami dan ia refleks tersenyum, meski saya belum beritahu hasilnya. Mungkin ia dengar waktu saya kaget melihat hasil pemeriksaan testpack.

Setelah sahur dan shalat subuh, ia sibuk googling mencari Dokter Ahli Kandungan di Bali dengan kriteria perempuan. Sudah naluri lelaki sepertinya, paling suka mencari solusi.

(Baca Juga : Khayalan Brainstroming)

Kami dapat beberapa referensi, dari forum website kehamilan dan teman kantor suami, yang sedang hamil. Semua dokter rekomendasi berpraktek di Denpasar, jaraknya setengah jam dari mess tempat tinggal kami, Jimbaran. Kami mencoba pergi ke tempat praktek yang direkomendasikan. Hasilnya nihil, dokternya lagi cuti bersama edisi lebaran Idul Fitri.

Kami menunggu sampai jadwal praktek berikutnya tiba. Kurang lebih menunggu sepekan. Sejak saat itu, ketika jalan-jalan, saya sibuk menatapi penanda di pinggir jalan, siapa tahu ada Dokter Ahli Kandungan yang sesuai kriteria dan lebih dekat. Saya tak bisa berlama-lama dibonceng motor.

Ternyata, ada dua Dokter Ahli Kandungan yang praktek bergantian, siang dan malam, di Rumah Sakit Kasih Ibu Kedonganan, Jalan Uluwatu, Jimbaran. Asyiknya lagi, bisa pesan jadwal konsultasi sehari sebelumnya, baik datang langsung atau melalui telepon. Jaraknya dekat dari mess. Kami memilih berkonsultasi disitu saja.

Setelah konsultasi dan diperiksa oleh Dokter Ahli Kandungan, hasil ultrasonografi (USG) memastikan bahwa saya hamil. Alhamdulillah. Drama-drama kehamilan trimester pertama pun dimulai. Semoga Anda betah membaca hingga selesai.

Gambar : freepik(dot)com ; Edit oleh saya

Berikut adalah ciri khas kehamilan trimester pertama, tentunya menurut pengalaman saya, antara lain:

#1. Ketika saya telat 5 hari, berarti usia kehamilan sudah memasuki pekan kelima

Begitu nasehat teman yang berprofesi sebagai bidan, sebelum saya akhirnya berangkat ke Bali.

Saya melakukan pemeriksaan ke dokter ahli kandungan, sepekan setelah testpack. Hasilnya adalah usia kehamilan sekitar 6 minggu. Semakin membenarkan perkataan teman saya.

Berarti, saya punya waktu dua bulan tuk menikmati masa-masa trimester pertama. Trimester pertama adalah masa tiga bulan pertama dari total sembilan bulan kehamilan atau pekan ke-1 hingga ke-12 dari total 40 pekan kehamilan normal.

#2. Indera Penciuman (Hidung) lebih sensitif

Mau lihat saya segera muntah?

Cukup dekatkan saya dengan aroma minyak goreng yang telah digunakan berkali-kali, bawang-bawangan, dan isi kulkas. Dijamin, dalam hitungan detik, saya bakal menuju kamar mandi terdekat tuk muntah.

Hal itu hanya terjadi saat di mess Bali. Malah berkurang bahkan tak ada efeknya sama sekali ketika berada di rumah mertua yang berlokasi di Bulukumba dan di rumah sendiri yang berlokasi di Makassar. Saya sempat pulang selama dua pekan di kampung halaman. Masa paling merdeka trimester pertama saya adalah saat pulang kampung.

Ada cerita menarik lainnya. Sebelumnya, saya sangat suka aroma parfum suami, bahkan bau badannya. Setelah menyadari hamil, saya jadi tak sanggup berlama-lama di dekat suami. Bawaannya mau muntah. Duh, saya merasa berdosa saat itu.

Pada beberapa obrolan seputar kehamilan, hal tersebut selalu lucu tuk ditertawakan. Menurut saya, ada baiknya juga sih jika tak dekat-dekat dengan suami. Karena pada kehamilan trimester pertama, masih tergolong masa rentan terjadinya keguguran janin. Jaga jarak dengan suami adalah salah satu cara tuk mengurangi faktor resiko tersebut.

Sensitifitas hidung saya perlahan menghilang, sejak saya berhenti minum susu tuk ibu hamil (sesuai saran mama mertua) dan masa trimester pertama pun mulai berakhir.

(Baca Juga : Tentang Manusia)

#3. Indera perasa (Lidah) lebih peka

Kalau makan yang manis, rasanya tinggal cukup lama di lidah. Bawaannya tidak nyaman meski sudah minum air putih banyak-banyak. Jadi, sebisa mungkin, saya menghindari makanan manis.

Saya jadi lebih suka masakan rumahan, tapi bukan masakan saya. Karena masih berefek pada hidung yang sensitif. Kalaupun saya masak, selalu keasinan. Kasian suami saya kalau begitu, harus menghabiskan makanan. Jadi, selama trimester pertama, lebih sering makan di luar atau pesan melalui aplikasi go food.

#4. Punggung terasa pegal

Kalau bangun tuk shalat subuh, pegalnya terasa. Saya siasati dengan punggung digosok Minyak Tawon, sesaat sebelum tidur. Juga pelan-pelan bangkit dari kasur, ketika bangun.

Pegalnya punggung tidak terasa ketika saya sudah makan ikan teri goreng di rumah mama mertua. Mungkin karena kandungan kalsium pada ikan teri yang berkhasiat mengurangi rasa pegal pada punggung atau bisa jadi itu hanya sugesti saya.

Sumber : tabloid-nakita(dot)com

#5. Mual dan muntah

Biasanya, ibu hamil akan mengalami mual dan muntah saat pagi. Kalau saya, jadwalnya tidak jelas. Kadang, malam hari, setelah minum vitamin dan susu tuk ibu hamil. Waktu itu, saya mencoba bedakan jadwal minum vitamin dan susu.

Sesekali pada pagi hari, jika saya tak ngemil atau makan sebelum jam 7 pagi. Pastinya, dalam sehari, setidaknya saya mual dan muntah sekali.

Di akhir trimester pertama, pada pekan 10 hingga 12, semakin sering mual dan muntah, pernah sampai 3 kali sehari. Kata dokter, hal itu wajar karena memasuki puncak-puncaknya perubahan hormon saat hamil.

Saya menandai mual ketika kepala terasa oleng, perasaan tak enak, bawaannya enak kalau baring saja dan berefek pada malas makan. Kalau begitu, saya merasa tersiksa.

Tuk mengatasinya, saya mendekati hal yang bisa mencetus muntah. Setelah muntah, saya merasa baikan dan makanan lebih enak dicerna. Pokoknya kalau merasa mual, saya usahakan bisa segera muntah.

#6. Pola hidup berubah

Dulunya, saya cukup makan sekali sehari dengan porsi besar. Nah, ketika hamil, tiap 3 jam pasti cari makanan yang bisa dikunyah, entah cemilan atau makanan berat.

Makannya lebih sering dengan jumlah kecil. Asalkan ada yang masuk ke saluran pencernaan. Penanda kala perut kosong adalah saya bersendawa. Saya akhirnya mengerti perasaan orang-orang yang menderita maag. Kalaupun akhirnya nanti dimuntahkan, ya saya menggantinya dengan makan cemilan.

Oleh karenanya, makanan ringan selalu tersedia di sekitar saya. Inilah kenikmatan hamil trimester pertama.

#7. Karena ngidam, saya belajar sabar

“Jika perempuan mengidamkan makanan manis, itu tanda bahwa dia membutuhkan lebih banyak protein.”

Robin Lim – Ibu Alami, persembahan dari Bumi Sehat.

Saya juga merasakan ngidam, kebanyakan ingin makan yang sudah lama tak dikonsumsi dan tersedia di Makassar. Kalau ada di Bali, rasanya tidak sama.

Saya sering tak bilang-bilang ke suami kalau ngidam sesuatu. Tapi, entah kenapa, biasanya suami membelikan sesuai keinginan atau mengajak makan yang kebetulan saya idamkan, tanpa saya pernah sampaikan. Baru ia tahu, saat saya ceritakan sambil menikmati makanan yang diidamkan.

Pernah saya mau makan coto, tetiba suami mengajak makan coto di Denpasar.

Pernah juga, saat saya ingin menikmati masakan Padang, suami menawarkan singgah di tempat makan yang khusus jual masakan Padang andalannya, yang lokasinya cukup dekat dengan tujuan kami, kala itu.

Saya juga pernah mau sekali makan Cakue, suami cuma tahu yang ada di Denpasar, lah kami tinggal lumayan jauh dan kasihan kalau merepotkan. Saya ikhlaskan saja. Eh, beberapa hari kemudian, suami pulang membawa Cakue, ia mengaku tiba-tiba dapat gerobak jualan Cakue, saat balik dari ATM dekat kantornya.

Makanan yang paling lama diperoleh adalah Songkolo Antang, nasi ketan dengan lauk ikan teri kering yang digoreng, kelapa goreng, sambal yang rasanya mantap, dan dijual di daerah Antang Makassar.

Lebih sebulan saya idamkan, waktu pulang kampung tak sempat dimakan. Saya cuma bisa bersabar dan meyakinkan diri bahwa nanti bisa makan Songkolok Antang jika waktunya tiba.

Untungnya, ada teman, yang mau berkunjung ke Bali, menawarkan pada saya, boleh titip apa saja. Saya hanya minta tolong dibelikan Songkolo Antang. Alhamdulillah, saya bisa makan Songkolo Antang sepuasnya karena teman bawakan dalam porsi besar.

(Baca Juga : Sobat LemINA Mengadakan Workshop Membangun Masyarakat Bernilai)

Begitulah beberapa pengalaman saya terkait ciri khas trimester pertama. Mungkin berbeda bagi beberapa ibu hamil.

Kalau ngobrolnya sama lelaki, kadang ada yang berkomentar, bahwa beberapa hal di atas itu hanya sugesti, jangan sampai terbawa perasaan, mesti dilawan biar tak jadi kebiasaan buruk. Jadi ibu hamil, harus bisa lawan manja.

Jika berbagi pengalaman dengan perempuan, yang pernah hamil juga, kebanyakan berpesan tuk jadi ibu hamil yang pantang manja. Ada yang sangat memahami pengalaman saya dan berkata bahwa hal itu berakhir jika sudah memasuki trimester kedua.

Saat menulis ini, saya sudah di fase trimester kedua. Tantangan dan kenikmatannya berbeda. Beberapa hal di trimester pertama sudah tak dirasakan.

Jika ada yang mau berbagi seputar kehamilan trimester pertama, mohon tinggalkan pesan di kolom komentar. Terima kasih.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *