Apa kabar tulisan?

Jam digital ponsel menunjukkan 22.39 Wita.

Terbangun gara-gara panas kegerahan dan teringat masih ada ponsel tercolok di listrik, menandakan sudah waktunya mereka dipisahkan agar tak terjadi tubuh kembung pada baterai ponsel. Banyak pesan obrolan belum terbaca. Ada yang mengingatkan sudah waktunya istirahat karena esok kami mau liburan, ada yang merajuk dan mengaku cuma bercanda, dan di obrolan grup pesawat whatsapp ada teman yang berbagi sebuah kutipan Pramoedya Ananta Toer tentang menulis lalu menanyakan “apa kabar tulisan?”

Sontak saya berpikir, kemana saja sepekan ini? Seingatku, serasa baru saja merasakan sensasi jumat lalu berusaha mencapai tulisan berjumlah lebih dari 500 kata. Kemudian kembali menikmati hal serupa. Dalam rentang waktu yang tak terasa jedanya. Penanda bahwa waktu terus berputar saat ini adalah peringatan mengenai tulisan yang belum disetor.

Tulisan ini merupakan postingan ketiga dalam rangkaian total 12 tulisan yang mesti dipublikasikan selama proses Nulis Blog Sobat. Kami harus mempublikasikan link postingan blog ke grup tertutup Facebook, sebelum waktu berpindah ke hari Sabtu. Tiap hari Sabtu akan diadakan kelas terkait menulis dengan konsep online dan offline bergantian tiap pekannya. Keluaran yang diharapkan dari Nulis Blog Sobat adalah pribadi-pribadi handal dan kelak akan menuliskan buku proyekan. Pesertanya merupakan relawan Sobat LemINA.

Sayangnya, saya hanya bisa berkontribusi setor tulisan pada pekan ini. Tidak turut menghadiri kelas menulis pada hari Sabtu esok. Ada ajakan menggiurkan, liburan sambil makan ikan dan udang bakar bersama teman kantor. Hidup butuh liburan juga, kan?

Sejam lagi batas akhir setor tulisan. Jumlah kata ketika menuliskan bagian ini sudah mencapai 225 kata. Tersisa setengahnya lagi. Bingung mau menuliskan rangkaian kata apa lagi. Bahas apa lagi. Dan tulisan kali ini lebih berupa opini tanpa riset.

Padahal keberadaan riset pada sebuah tulisan akan sangat mempengaruhi bobot tulisan. Lebih meyakinkan jika ada riset dan jauh lebih bisa membantu dalam mencapai jumlah 500 kata.

Mau bahas apa lagi yah? Mata sudah mulai kantuk lagi. Tubuh sudah gelisah menggeliat dari kiri ke kanan, dan sebaliknya. Bekas luka tadi pagi masih terasa perihnya diantara jari jempol dan telunjuk kiri. Lukanya mulai mengering. Perut mulai bergejolak karena belum diisi stok malam. Lapar. Paduan alasan banyak agar menghentikan usaha. Terlalu banyak alasan bisa menunda kesuksesan menyelesaikan misi.

Kegagalan dapat terjadi karena selalu menganggap bahwa ada alasan yang bisa dilontarkan saat semuanya berjalan tak sesuai keinginan. Ada yang bisa jadi kambing hitam. Disalahkan. Padahal sumber kegagalan itu sendiri adalah sifat menunda-nunda. Jika misi diselesaikan sebelum waktunya tanpa harus menunggu tenggat waktu, pasti semua akan berjalan lancar. Kayak jalan tol.

Tol tol apa yang kasian?

Permintaan tolong, kapan tulisan mencapai batas ketentuan. Oh iya, jika terkesan campur aduk kayak gini, pasti akan sampai pada tahap kebingungan dalam membangun paragraf agar terjadi sinkron antara paragraf satu dengan setelahnya.

Memastikan bahwa pada awal paragraf masih membahas seputar akhir paragraf sebelumnya. Entah hanya dibahas sekilas atau malah dibahas lebih dalam.

Mengamini dalam hati, semoga segala pembahasan bisa berbuah pengetahuan bagi pembaca. Lebih dari sekadar curhatan jumlah target kata yang tak kunjung tercapai. Maksud saya, sedikit lagi tercapai.

Dan pada akhirnya sampai pada suatu masa, teman-teman pembaca akan menemukan pola bahwa beberapa postingan terakhirku hanya seputar mempermasalahkan hal yang sama. Target jumlah tulisan mencapai 500 kata.

Makna di balik itu semua adalah pada tiap tulisan yang mencapai target, ada sikap pantang menyerah di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *