Babymoon ke Pura Uluwatu, Kenapa Tidak?

Tak terasa Amirah, putri sulung saya, hampir genap berusia setahun. Tepatnya sembilan hari lagi. Waktu begitu cepat berlalu. Kemana saja saya selama ini?

Kadang saya berpikir sepertinya baru kemarin, saya ribet dengan urusan tugas dan ekstrakurikuler sekolah, skripsi saat kuliah, tenggat waktu pekerjaan, hingga akhirnya saat ini berada di fase menjadi ummi bagi Amirah.

Baca juga : Amirah tujuh bulan

Sejak nikah, saya merantau ikut suami ke Bali. Jangan harap hidup terasa enak dan bisa liburan kapan saja. Malasnya gerak saat hamil menjadi alasan saya merasa agak mending jika berkegiatan di rumah saja. Mestinya tidak begitu juga, harus banyak gerak biar tubuh sehat dan bugar selama hamil. Teringat kala hamil sempat babymoon dengan abinya Amirah saat usia kehamilan 4 bulan.

Kebetulan ada 5 teman Plurker Makassar, komunitas sosial media Plurk domisili Makassar, yang berlibur ke Bali. Pura Uluwatu menjadi salah satu destinasi pilihan kami karena ingin menikmati suasana matahari terbenam dengan sensasi ombak menyambar tebing. Pura Uluwatu terletak di Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.


Harga tiket masuk cukup terjangkau yakni Rp.20.000 (wisatawan dewasa lokal), Rp. 30.000 (wisatawan dewasa asing), Rp.10.000 (wisatawan anak lokal), dan Rp. 20.000 (wisatawan anak asing). Jika ingin menyaksikan pertunjukan Tari Kecak ada biaya tiket Rp. 100.000 per orang. Ada juga biaya parkir kendaraan Rp. 5.000 (mobil) dan Rp. 2.000 (motor). Jam operasionalnya pukul 07.00-18.30 WITA (pura) dan pukul 17.00-18.00 WITA (tari kecak).

Pertunjukan Tari Kecak saat menjelang matahari terbenam sungguh diminati para turis lokal maupun asing. Terbukti saat saya ke sana, malah kehabisan tiket. Saya sedih saat itu. Alhasil hanya menikmati Pura Uluwatu dengan berjalan kaki dari pintu masuk dan menjelajahinya. Sampai sulit atur nafas. Maklum ya, saya tak sering olahraga sehingga tubuh terasa beraktivitas maksimal. Turisnya banyak loh, saya kehabisan kain khas yang dibagikan oleh petugas di pintu masuk. Kain khas dikenakan pengunjung selama berada di area Pura Uluwatu.

Pura uluwatu dikenal sebagai Pura Sad Kayangan, bagi warga lokal Bali dianggap sebagai penyangga 9 mata angin dan merupakan lokasi pemujaan oleh Empu Kuturan. Jangan heran kalau suasana di Pura Uluwatu terasa sangat sakral karena menjadi lokasi peribadatan bagi agama Hindu di Bali. Jadi, sebaiknya datanglah dengan mengenakan pakaian sopan dan hindari merusak bangunan yang ada di dalam maupun di luar Pura Uluwatu. Buanglah sampah pada tempatnya. Juga berhati-hatilah dengan monyet di sekitar pohon. Hindari makan dan minum karena akan menarik perhatian monyet.

Monyet berkeliaran di pohon. Bisa sangat lincah mengambil barang pengunjung jika ada yang menarik perhatiannya. Bisa kamera, makanan minuman, ponsel, kacamata, topi, dan apapun itu. Meski sudah ada pawang, tetap saja monyet bisa meraih barang yang ingin dia rebut. Bahkan dari pengunjung seperti saya. Jika ada barang yang berhasil direbut monyet, segera sampaikan pada pawangnya agar segera meminta kembali pada monyet.


Setelah berfoto di suatu sudut, saya mencoba area lain, tepatnya di tembok panjang di belakang foto saya, tuk mengabadikan moment keberadaan di Pura Uluwatu. Sayangnya, ketika sudah bergaya dengan tangan kiri menempel di tembok dan tangan kanan menyesuaikan posisi, tiba-tiba saja monyet berlari sangat kencang, padahal dari kejauhan loh, lalu mengambil kacamata saya. Sempat terjadi perebutan antara saya dan monyet. Betapa sedih saya karena hanya tersisa gagang kacamata sebelah kanan.

Monyet itu merayakan kemenangan dengan mengunyah kacamata saya, hingga retak pada seluruh bagian dan tak bisa lagi diperbaiki. Pasrah. Saya kira cuma kacamata gaul yang akan direbut monyet, makanya santai saja tak menjaga dengan baik.

Baca juga : Sempurna Mengoyak Perasaan

Saya pulang dengan terus menggandeng tangan suami agar tetap menjaga keseimbangan, karena yang terlihat di depan hanya gambaran buram. Maklum ya mata sudah minus lima ditambah lagi area Pura Uluwatu adalah hal baru. Jadi belum sangat paham dengan lokasi Pura Uluwatu.

Perjalanan babymoon ke Pura Uluwatu akan selalu terkenang. Lima hal menarik dari tempat tersebut antara lain senja, monyet, Tari Kecak, turis, dan jalan kaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *