Castaway on the Moon

Castaway on the Moon

By : -

Castaway on the Moon. Film ini diberikan oleh teman Saya yang bernama Aris dua hari yang lalu. Film ini direkomendasikan olehnya untuk Saya tonton karena kebetulan hari itu Kami saling bertukar koleksi film korea yang kami miliki masing – masing. Akhirnya pada hari ini Saya pun memiliki kesempatan untuk menonton film tersebut.

Film ini cukup berbeda dengan beberapa film korea yang telah Saya nonton karena biasanya film korea seringkali bercerita tentang kisah percintaan tetapi film ini malah menyajikan suatu yang lain dan unik. Film yang rilis tahun 2009 ini mengambil lokasi syuting serta jumlah pemain yang tidak terlalu banyak. Begitu pula dialog antar pemainnya masih bisa dihitung jari berapa kali mereka berinteraksi secara langsung. Meskipun begitu, film yang disutradarai oleh Lee HeyJun menyajikan konsep yang luar biasa.

Saya tidak ingin menceritakan panjang lebar sinopsis atau jalan cerita singkat dari film yang bersifat edukatif ini melainkan Saya hanya ingin berbagi apa-apa saja yang Saya suka dari film ini. Pokoknya two thumbs untuk sutradara dan timnya yang telah membuat film yang luar biasa ini.

1. Kutipan favorit Saya yakni : “Keinginan membuat manusia lebih cerdas” ;

Kutipan ini memberitahukan kepada kita bahwa sebagai manusia janganlah setengah-setengah dalam menginginkan sesuatu karena totalitas dari keinginan kita yang menentukan seberapa besar otak kita akan berpikir kreatif dalam mewujudkan keinginan tersebut.

2. Adegan favorit Saya yakni ketika pemeran pria berhasil membuat mie instan kacang hitam dari jagung yang telah Dia tanam selama beberapa bulan dan memakannya sambil menangis tersedu-sedu;

Adegan ini sungguh menyentuh nurani Saya meskipun agak sedikit jorok cara Dia membuat mie instan kacang hitam tersebut. Entah ini film yang diadopsi dari kisah nyata atau hanya fiksi belaka, yang pasti film ini telah menginspirasi Saya bahwa “harapan besar yang didukung dengan usaha keras akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri jika kita telah melihat dan merasakan secara langsung hasil akhirnya”.

3. Adegan favorit lainnya yakni ketika Sang pemeran wanita keluar dari zona nyamannya untuk menemui Si pemeran Pria;

Adegan ini sepertinya sudah cukup jelas memberitahukan kepada kita bahwa sekali-sekali kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Saya ingat ketika hari terakhir Kuliah Kerja Nyata sebulan yang lalu, teman Saya memberikan kata-kata terakhir kepada Saya yang kurang lebih makanya sebagai berikut bahwa setiap manusia tidak akan selamanya terus berada dalam zona nyaman jadi lebih baik kalau dari sekarang bersiap-siap dan belajar untuk menjadi fighter karena sebenarnya dunia itu tidak selalu berpihak kepada kita.

Sekian cerita singkat Saya mengenai film ini dan selanjutnya Saya harus kembali ke dunia nyata karena tugas kuliah menunggu untuk Saya kerjakan. Oh iya, sebagai penutup Saya juga melampirkan trailer dari film Castaway on the Moon. Jika Kamu belum menonton maka sebaiknya memasukkan film ini ke dalam daftar tunggu yang harus Kamu nonton. Mengapa ? Kamu akan menemukan jawabannya sendiri setelah menontonnya. Jika belum memilikinya, segera hubungi teman terdekat yang memiliki film ini untuk mencopy nya atau meminjam kaset DVDnya. Selamat menonton.

Sumber foto : http://imageshack.us/photo/my-images/8/219957thumbs20090828135.jpg

Film yang bagus dan keren menurut pengalamanku. Ada beberapa kesamaan dalam perjalanan hidupku(ceile). Sampai aku merasa ini adalah diriku yang sedang di-film-kan.

Ketika seseorang merasa down (awal cerita) dia pergi. Ingin mengakhiri segala hal kehidupan yang mungkin mulai terasa membosankan. Dia pilih menceburkan diri ke sungai dan berharap dia mati. Lalu terdampar pada sebuah tanah(pulau) yang menurutnya itu adalah pulau terpencil. Ini mengingatkanku pada novel Robinson Crusoe karya Daniel Defoe (http://en.wikipedia.org/wiki/Robinson_Crusoe). Dimana ia terdampar pada sebuah pulau yang benar-benar terpencil. Ia mencoba bertahan hidup dari pulau tersebut. Mencoba membuat rumah dan bertani. Menciptakan dunianya sendiri sampai akhirnya tokoh novel tersebut berhasil keluar dari pulau.

Aku suka film seperti ini. Aroma kesunyian. Cerita yang membangun imajinasiku melayang. Kau bisa bikin beberapa kisah sendiri di dalamnya. Tapi film ini terlalu singkat mengisahkan petualangan di pulau. Andai saja ada film lain tentang petualangan sunyi di pulau asing yang benar-benar asing, pasti menarik sekali.

Entah apa yang dilakukan tokoh perempuan di film ini. Tapi ini menarik sekali. Tumpukan sampah dalam kamar. Jarang keluar. Menikmati kehidupan sendiri. Sampai akhirnya ia menemukan sosok pria dalam pulau asing tersebut. Dan mulai mengamatinya. Kemudian mencarinya. Seperti ada perasaan yang sama pada kedua tokoh ini.

Endingnya lumayan mengharukan(untuk tidak menyebut biasa aja). Aku ingin mereka melanjutkan petualangan yang baru pada pulau asing lagi. Kalau saja dibuat kelanjutan filmnya. Pasti asyik!

Two thumbs!

Terima kasih Ekohm Abiyasa karena sudah mau berbagi cerita dan komentarnya dari sudut pandang sendiri.
Ditunggu yach kabar selanjutnya jika memang ada kelanjutan dari film ini atau kalau ada film yang sama-sama rekomendid seperti filem ini. 😀

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *