Berjalan lebih jauh

Jangan sok tegar tak mau menggunakan payung saat hujan. Saya tahu bahwa hujan akan melanda kotaku seharian. Namun, Saya memilih tak membawa payung dengan dalih ingin berpetualang dan mencoba melalui hari ini dengan tak biasa. Saya bahkan tak menggunakan jaket untuk menghindari masuk angin, bahkan sekadar memberi batas kepada hujan agar tak langsung bersentuhan dengan kepalkua.

Saya meninggalkan rumah lebih awal dengan menenteng ransel berisi laptop, hardisk eksternal, dan perangkat kabel kebutuhan lainnya. Saat meninggalkan rumah, hujan sedang reda, hanya langit mendung yang tersisa. Saya bertamu ke beberapa tempat. Satu hal yang bisa jadikan pelajaran dari bertamu adalah hargailah tamu mu, siapapun dia. Saat Saya bertamu, ternyata tuan rumah yang dicari belum ada di tempatnya. Saya cuma bisa bertemu dengan penghuni yang lain. Mereka tak merespon baik kehadiran Saya saat bertanya keberadaan tuan rumah. Seketika naluri merasa tak dihargai berkobar dari dalam diri Saya.

Padahal jelas dalam hadis,

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah bicara yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kpd Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamunya.” (HR Bukhari-Muslim)

Semoga tulisan ini berisi pembicaraan yang baik, karena bila tidak, sebaiknya Saya tak melanjutkannya (diam).

Saya melanjutkan perjalanan untuk bertemu seorang kawan. Saya ingin menyalin beberapa film miliknya ke dalam harddisk eksternalku. Saya berjalan kaki menuju jalan Diponegoro, jalan yang sering dilalui pete-pete (sebutan untuk angkutan kota di Makassar).

Hujan deras tetiba mengguyur, padahal Saya belum sampai di Jalan Diponegoro. Saya menepi untuk berteduh. Berharap seketika cowok ganteng juga singgah berteduh, ala ala FTV layar kaca. Namun, tak kunjung datang cowok impianku, begitulah kira-kira namanya kalau cuma khayalan.

Saya melanjutkan perjalanan ketika hujan beralih menjadi gerimis. Bulir hujan tipis tipis membasahi jilbabku, menembus lapisan kulit kepala yang ditumbuhi rambut. Saat tiba di pete-pete, Saya meraih ponsel dan mengintip dunia maya. Saya sempat merasa bahwa perjalananku kurang greget. Mengorbankan diri tak membawa payung masih belum cukup buatku.

Ternyata, Saya lupa memanjakan insting ‘pengamat’ku. Akhirnya, ponsel kugunakan seperlunya untuk mengabari kawan yang sedang menunggu kedatanganku, selebihnya tak kugunakan bila tak perlu. Kuangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk fokus ke ponsel, lalu menengok ke jalanan. Banyak ide bertaburan di jalanan. Muda mudi yang berteduh di tempat sama hingga akhirnya berkenalan. Penumpang pete-pete tak saling kenal akhirnya mengobrol karena membahas isu yang lagi hangat. Tangan mungil anak yang menggenggam payung berukuran tak sebanding dengan tubuhnya, menggigil dalam penantian ada orang dewasa yang menyewa payungnya. Banyak kisah yang bisa dituliskan saat perjalanan.

Setiba di perbatasan Antang (Makassar) dengan Samata (Gowa), Saya harus turun dari pete-pete karena hanya sampai disini jalur terjauh pete-pete. Saya mencoba basa-basi ke Supir sambil menyodorkan uang bayaran, menanyakan apakah tarifnya tetap empat ribu rupiah ? karena perjalanan Saya yang terbilang cukup jauh. Sang Supir mengangguk. Dalam hati, Saya merasa bahwa Supir dengan trayek pete-pete ini pasti kebanyakan orang-orang berjiwa besar, ikhlas dibayar sesuai tarif yang disepakati oleh Pemerintah. Berbanding terbalik dengan supir pete-pete yang pernah Saya temui, supirnya ngotot harus dibayar sesuai tarif meskipun jarak yang dilampaui cukup dekat.

Bermodalkan petunjuk nama SD terdekat dengan rumah kawan, Saya berjalan kaki. Hujan masih mengguyur. Ada uang lebih di kantong untuk menggunakan ojek agar bisa tiba di tujuan, namun Saya urung menggunakannya karena ingin berpetualangan dengan hal-hal yang tak memanjakan diri. Saya berjalan sekitar 15 menit dan dua kali singgah bertanya hingga akhirnya menemukan belokan yang harus kulalui.

Saya singgah sejenak berteduh di warung yang bersebelahan dengan Sekolah Dasar (SD). Ada dua ibu yang menunggui anaknya dan seorang ibu penjaga warung. Mereka mengobrol tentang anaknya yang diharapkan bisa pulang lebih awal, gurunya tak masuk mengajar dengan alasan hujan. Saya sempat menanyakan tujuanku dan seorang Ibu itu mengatakan bahwa masih jauh dan harus ditempuh dengan ojek atau becak motor (bentor). Saya penasaran dengan kata ‘jauh’nya, seberapa jauh bisa kutempuh. Saya lalu pamit dan mereka membalas dengan celetuk melarang Saya jalan kaki karena jauh untuk dijangkau. Saya membalasnya dengan senyuman.

Setelah berjalan sekitar 100 meter, Saya singgah lagi karena hujan tetiba menjadi deras. Saya berinisiatif untuk numpang karena sepertinya hujan derasnya akan berlangsung lama. Tak lama kemudian, muncul sebuah pick up melaju pelan.Terdengar suara dentuman musik keras. Saya mengulurkan jempol kiri sebagai tanda bahwa ingin numpang. Sang supir singgah, kemudian Saya menanyakan tujuannya kemana, apakah melintasi tujuan Saya. Sang Supir pick up memberitahukan bahwa tujuannya sejalur, tapi tidak sejauh tujuanku. Tapi, dia dengan senang hati mengantar hingga ke tujuanku. Agak merepotkan sebenarnya, Saya cuma berdoa semoga kebaikannya diberi ganjaran lebih baik.

Saat tiba di tujuan, Saya berjumpa dengan kawan dan menunaikan hajat mengambil beberapa koleksi filmnya. Saat waktu shalat dhuhur tiba, Saya beranjak ke mesjid terdekat. Rumah yang kudatangi dihuni para bujangan dan Saya tak membawa mukenah. Saat berjalan menuju mesjid, ada seorang wanita paruh baya dengan motornya, singgah di dekatku dan menawarkan tumpangan. Si Ibu mengira Saya ingin keluar ke jalan raya. Saya menolak karena tujuanku dekat. “Warga di tempat ini, ternyata ramah” pikirku.

Setelah shalat, Saya duduk sejenak di mesjid untuk membalas beberapa pesan masuk di ponsel. Tetiba ada seorang pria berumur kira-kira 40 tahun, berbaju gamis putih, dan berjanggut menyapaku. Dia menanyakan tempat tinggalku. Saya menjawab seadanya sekaligus memberitahukan bahwa Saya hanya bertamu di wilayah sini. Dia menimpali kembali dengan pertanyaan dimana lokasi tepatnya rumah yang kudatangi. Dalam hati, Saya berpikir Dia kog mau tahu urusanku. Saya lalu menjawab dengan beberapa petunjuk arah sebisaku.
Dia berujar, “oh, rumah yang banyak anak cowok tinggal disitu?”.
“iya Pak” jawabku.
Saya lega akhirnya dia mengerti, lalu Saya pun pamit.

Setiba di rumah kawan, Saya menceritakan kepada kawan Saya mengenai kejadian yang kualami. Kawan Saya menjawab bahwa memang warga di sekitar sini rasa kekeluargaannya masih tinggi. Mereka masih menyapa satu sama lain. Mereka mengajak ngobrol setiap warga yang ditemui. Pokoknya warga sini masih saling kenal. Saya iri setelah mendengar cerita kawan. Saya tergolong orang yang tertutup bila berada di lingkungan rumah ,sehingga ritual ramah dan saling menyapa bukan hal wajar buatku. Setelah kejadian ini, Saya berpikir untuk ramah dan menyapa tetanggaku jika kebetulan ketemu di jalan. Siapa lagi yang bisa melakukannya kalau bukan dimulai oleh diri sendiri.

Saya pamit pulang setelah semua urusan beres, kawan mengantarkanku sampai jalan raya di depan. Saya berjalan kaki hingga wilayah Kassi, perbatasan Makassar-Samata, diiringi hujan hingga Saya mendapat pete-pete trayek Antang yang akan mengantarkan sampai jalan diponegoro. Selama perjalanan pulang tak ada yang menarik buatku, hanya para siswi SMP saling curhat mengenai pacarnya masing-masing.

Ketika tiba di rumah, Saya mengeluarkan semua barang dari ransel dan bersih-bersih diri dengan cuci muka. Lalu baring sejenak di kasur kakak. Saya berniat mandi sekaligus keramas setelah baring sejenak. Namun, setelah kepala menyentuh kasur. Saya tertidur cukup lama. Ketika bangun untuk mandi, nyeri hebat menggerogoti kepalaku. Resiko bermandi hujan dan tak keramas setiba di rumah. Saya hanya sanggup berpindah ke kamar gelap untuk melanjutkan tidur. Alhamdulillah, nyeri kepala itu lenyap saat Saya bangun pagi. Saya pun kembali ke rutinitas sehari-hari.

#Harike6 #6HariMenulisCatatanHarian #KelasMenulis #KedaiBukuJenny #Cobatulisulanglagi