“Click” (A Tribute to My Grandfather)

“Click” (A Tribute to My Grandfather) – Pertama kali saya melihat poster film Click (2006) ketika Saya di bioskop yang pada saat itu di atas poster film itw masih tertulis Coming Soon. Sempat terpikir di benak Saya bagaimana isi cerita dari film tersebut. Hingga pada suatu hari, Saya akhirnya menonton film tersebut pertama kali di salah satu chanel televisi swasta, sekitar bulan Juli tahun 2009, beberapa tahun setelah film itu rilis. Hal yang penting adalah bukan kapan waktunya Saya menonton film melainkan bagaimana dan apa makna yang bisa Saya petik dari film ini.

Film Click dibintangi oleh Adam Sandler yang berperan sebagai Michale Newman merupakan seorang Ayah sekaligus arstitek yang gila kerja menerima sebuah remote universal dari seorang profesor bernama Morti yang membuat Michael mampu mempercepat atau mengulang kembali bagian hidupnya. Sungguh ajaib remote tersebut karena dapat melakukan apa yang Michael kehendaki seperti melewatkan kegiatan yang tidak Dia senangi.

Film fiksi bergenre komedi drama ini sarat dengan makna. Salah satu adegan favorit Saya karena adegan ini membuat Saya menangis ketika Michael tidak sempat melihat Ayahnya untuk terakhir kali dikarenakan Dia sedang berada di mode otomatis. Pada saat itu Ayahnya yang telah berusia senja, datang menemuinya di kantor dan pada saat itu Ayahnya ingin memperlihatkan Michael rahasia sulap yang selama ini selalu di tunjukkan kepadanya. Oleh karena pada saat itu Michael sedang berada dalam mode otomatis, makanya Dia tidak menghiraukan perkataanAyahnya yang pada saat itu beliau berkata pada Michael untuk terakhir kalinya bahwa Ayahnya sangat menyayangi Michael. Karena Michael sangat menyesal sekali kejadian itu, Dia sampai mengulang 3 kali adegan ketika Ayahnya mengatakan tersebut dengan remote universalnya. Adegan tersebut membuat Saya menangis karena mengingatkan Saya pada detik-detik terakhir Saya menemui Kakek Saya.

Hal yang paling membuat Saya sedih adalah pada waktu Saya membesuk kakek Saya di Rumah Sakit adalah ketika Saya tahu dari paman Saya tentang penyakit kanker paru-paru stadium akhir (atau istilah medisnya adalah non-cell lung carcinoma) yang telah diderita Kakek. Sejak mengetahui fakta tentang penyakit Kakek, Saya tak mampu menatap lebih dalam mata Kakek. Harusnya, setelah mengetahui hal tersebut, Saya menjadi lebih aktif untuk merawat Kakek Saya dan yang terjadi malah sebaliknya. Pada hari itu, Saya ingat bahwa hari itu adalah hari sabtu, Kakek meminta Saya untuk datang merawat Dia lagi keesokan harinya dan pada saat yang sama Saya pun menolak permintaan Kakek dengan alasan karena esoknya Saya ada praktikum laboratorium. Semenjak hari itu, Saya tidak datang lagi menjeguk Kakek Saya di rumah sakit.

Setelah beberapa hari, akhirnya Kakek pun dirawat di rumahnya. Saya ingat waktu itu hari jumat, tepat sejam sebelum jadwal shalat jumat, Saya pun menjenguk kakek di rumahnya bersama saudara-saudara Saya. Satu hal yang paling berkesan tentang beliau adalah beliau sudah seperti Ayah kedua Saya karena beliau selalu membantu Saya dalam segi finansial seperti membelikan buku-buku pelajaran buat Saya dan sebagainya. Adapun pemberian terakhir Kakek kepada Saya adalah laptop yang sedang Saya gunakan untuk menuliskan catatan ini. Pada hari itu, Kakek bertanya kepada Saya ttg hal apa yang Saya inginkan pada saat itu. Miris hati Saya ketika Kakek bertanya hal tersebut, pada saat itu Saya tak sanggup menatap mata Kakek karena teringat penyakit yang beliau derita. Saya pun menjawab bahwa Saya sedang tidak menginginkan apa-apa sambil menahan desahan tangis Saya yang tertahan. Setelah itu, Kakek pun memberi petuah-petuah kepada Saya dan saudara-saudara Saya.

Selang beberapa hari setelah itu, hari senin pagi, mesjid di dekat rumah Saya mengumumkan bahwa Kakek Saya telah tiada. Saya pun kaget dan berucap Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Hal yang paling menyakitkan pada saat itu adalah Saya tak sempat mengantar Kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya karena ada ujian final dan ternyata ujian final tersebut ditunda karena dosennya tak datang dengan alasan menghadiri pemakaman keluarganya di luar kota. Saya sangat terpukul oleh karena pilihan Saya pada saat itu yang tidak mengantar Kakek untuk terakhir kalinya dan hingga beberapa hari setelah itu Saya terus dihinggapi rasa penyesalan itu. Hingga pada suatu malam, Saya menonton film Click di salah satu chanel stasiun swasta dan melihat adegan seperti yang telah Saya tuliskan di atas. Saya pun teringat pada Kakek, teringat pada hal-hal yang tak sepantasnya Saya lakukan pada saat itu, ketika Saya menolak permintaan Kakek untuk menemaninya lagi keesokan harinya serta ketika Saya tidak menjawab pertanyaan Kakek untuk terakhir kalinya. Andai waktu Kakek bertanya ttg apa yang Saya inginkan pada saat itu Saya menjawab Saya ingin menemani hari-hari terakhir Kakek dan andai Saya mengiyakan ketika Kakek meminta Saya untuk menemaninya lagi di rumah sakit pada hari berikutnya. Saya menyesal karena tidak dapat berada di sisi Kakek di hari-hari terakhir beliau, padahal Kakek selalu ada ketika Saya membutuhkan beliau dan juga telah mengajarkan beberapa hal-hal baik kepada Saya.

Beberapa tahun kemudian, Saya tak ingat tanggal pastinya, chanel TV swasta yang sama kembali memutar film yang berjudul Click sebagai salah satu paket film yang ditayangkan untuk menyambut tahun baru 2011. Saya pun kembali menonton film tersebut. Pada adegan ketika Michael mengulang hingga tiga kali kata-kata terakhir Ayahnya, Saya pun menangis dan kembali mengingat penyesalan-penyesalan yang telah Saya lakukan kepada Almarhum Kakek Saya. Sungguh sangat dalam makna yang diberikan oleh film ini. Sungguh keluarga adalah hal terbesar dalam hidup kita dan alangkah baiknya kita dapat menjaga dan memprioritaskan mereka. Penyesalan akan tetap menjadi penyesalan yang menyesatkan jika tidak ditanggapi dengan baik. Oleh karena itu, selang beberapa jam setelah menonton film tersebut untuk kedua kalinya, Saya pun berinisiatif untuk menuliskan pengalaman Saya ini ke dalam salah satu Catatan tidak LUAR BIASA Saya sebagai bahan pembelajaran.  Setidaknya Saya merasa lebih lega karena telah menuliskan penyesalan terbesar dalam hidup Saya yang tidak pernah Saya ceritakan lebih detail kepada siapa pun.

Terima kasih karena Anda telah menyempatkan waktu untuk membaca curahan hati Saya yang sangat panjang ini. Tolong sampaikan salam hangat penuh cinta dari Saya untuk keluarga Anda.

Pada hari itu, Kakek bertanya kepada Saya ttg apa hal yang Saya inginkan pada saat itu