Karangan Bebas

Cuap gelap

24 Maret 2014

“Saat tak bisa bobo, maka menulislah.” Nasehatku pada diri sendiri. Letih raga menggerogotiku. Batin pun merintih. Hampir saja diriku dijajah oleh orang yang sok berkuasa.

Langit hari ini penawar kebahagiaanku.
Senjanya sangat cantik. Kulihat samar dari dari balik jendela kecil, meski kejauhan. Sudut pandangku berbeda. Kali ini, dari atas pesawat. Tentunya lebih dekat dengan langit. Iri ka’ dengan dua bapak dosen yang duduk di sebelah kananku. Mereka bisa saja menikmati langit senja sepuasnya. Namun, lebih memilih baca majalah.

“Lain kali, kuharus bisa menatap langit senja itu. Pokoknya harus bisa. Tepat dari balik jendela pesawat”. Janjiku pada diri sendiri.

—-***—-

Nasi + pecel lele + lalapan. Menu makan malam pertamaku di kota pahlawan, tak bisa kulahap dengan puas. Masih bersisa seperempat bagian di piringku, saat kuberanjak melanjutkan perjalanan. Bukan sengaja. Namun, perutku tak bersahabat. Mengikuti jejak dompet. Modal perjalanan ini tak lebih dari fasilitas travel.

Tuh kan, kalau bahas beginian, pasti kuingat laptopku yang sebentar lagi berpulang ke rahmatullah. Semoga bulan ini sudah ada gantinya.

—-****—-

Terlalu banyak cuap-cuapku bertebaran, serupa curahan hati, di kamar gelap, meski tak sama. Kamar gelap ini lebih mewah dan lebih dingin. Namun, kurang nyaman bagiku. Tak ada aroma khas bantalku. Tak ada guling. Tak ada kamu di pikiranku.

*01.26 waktu setempat,
di kamar hotel kota wisata Batu, Malang*

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply