Gadis Itu

Kali ini, Aku ingin bercerita mengenai gadis itu yang telah lama menyita perhatianku.
Jangan tanyakan padaku mengenai siapa nama gadis itu karena Aku terlalu asyik memperhatikan gerak-geriknya hingga lupa mempertanyakan hal remeh seperti itu.
Gadis itu sangat ramah, terlihat dari lengkungan senyum di wajahnya acap kali bertemu dengan orang lain.
Bahkan sesekali gadis itu terlihat memeluk setiap orang yang ditemuinya, bilamana orang itu telah cukup akrab dengannya, sebagai caranya untuk memberi sapaan.
Jika berjumpa dengannya, orang lain akan menganggap bahwa gadis itu seperti tak pernah dihinggapi masalah.
Hingga suatu hari, gadis itu nampak murung dan seseorang di sekitarnya menyadari hal itu.
Orang itu pun langsung bertanya ke gadis itu mengenai kondisinya yang tidak seperti biasanya.
Sebagai pembelaan, gadis itu beralasan bahwa dia hanya sedang letih menjalani hari yang terlalu keras padanya pada akhir-akhir ini.
Temannya pun hanya mengangguk pelan setelah mendengarkan alasan gadis itu.
Dalam hati, Gadis itu sangat bersyukur karena dia hampir saja lupa bahwa ternyata masih ada yang peduli padanya.
Selain itu, Ada kisah menarik lainnya mengenai gadis itu.
Pada suatu hari, gadis itu seperti mendapat isyarat bahwa ‘hari ini’ akan menjadi hari yang berat untuk dilaluinya.
Gadis itu telah menyadari isyaratnya, sekejap setelah membuka mata dari lelapnya tidur panjang.
Gadis itu tidak pernah meminta kepada TUHAN agar dihadiahi hal yang tidak bersahabat seperti ‘hari ini’.
Meskipun begitu, Gadis itu selalu menganggap bahwa setiap ‘hari ini’ adalah hadiah berharga bagi dirinya; bukan ‘hari kemarin’ yang telah berlalu apalagi ‘hari esok’ yang belum pasti.
Jadi, Gadis itu memutuskan untuk menerima dengan pasrah dan melewati setiap kejadian yang akan terjadi ‘hari ini’, apapun itu.
Sesuai prediksi, silih berganti rentetan kejadian tak mengenakkan pun terjadi padanya ‘hari ini’.
Gadis itu punya pilihan untuk kabur dari setiap situasi tak mengenakkan yang terjadi dan dia malah menolak pilihan itu sekuat tenaganya; karena dia yakin bahwa setelah ada kesusahan pasti ada kemudahan.
Keyakinan yang mengantarkan gadis untuk lebih belajar mengenai arti hidup secara gamblang pada ‘hari ini’, bukan sekadar mempelajari teori dari quotes atau kutipan yang sering disalinnya ke jejaring sosial.
Satu hal yang memantapkan hati gadis itu yakni banyak yang sayang padanya, termasuk Jendela angkutan umum dan Tembok ruangan yang senantiasa mampu memberi sandaran nyaman bagi kepalanya yang penat pada ‘hari ini’.
Selain itu, ‘Hari ini’ mengisyaratkan kepada Gadis itu agar tidak perlu khawatir, karena RUMAH akan selalu menyediakan tempat ter-nyaman bagi dirinya untuk berpulang.
Tempat berpulang bagi dirinya setelah melewati setiap fase pada ‘hari ini’ dan akan senantiasa menjadi tempat bermula bagi gadis itu dalam mengawali setiap ‘hari ini’ lainnya.
Rumah adalah tempat berpulang yang bersedia memberi ruang besar bagi gadis itu untuk bebas berekspresi menjadi sosok dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *