#HariKe3 #ReliWisataPKM 2014

#HariKe3 #ReliWisataPKM 2014

By : -

#HariKe3 #ReliwisataPKM

Tantangan hari ini di luar ekspektasi. Saat saya baru selesai asistensi dengan pembimbing di kampus unhas, kusempatkan diri untuk mengikuti kata hati, shalat ashar sebelum ikutan #ReliWisataPKM.

Setelah shalat, saya mengecek twitter, ternyata akun @komunitasMKS sudah memberikan petunjuk sekitar 15 menit yang lalu.

“Kunjungi salah satu benteng peninggalan kerajaan Gowa lalu twitpic di atas jembatan S. Jeneberang. Sertakan #TantanganPos5#ReliWisataPKM

Lokasi yang akan dituju untuk Tantangan Pos 5 adalah Benteng Somba Opu. Kalau dari jarak, sangatlah tidak dekat. Apalagi bila ditempuh menggunakan pete-pete (sebutan untuk angkutan umum di Makassar).

Penyesalan pun datang bertubi-tubi.Pikiran saya dipenuhi kalimat, “Cobanya tidak shalatko dulu tadi, bisako numpang di mobilnya ‘anu’. Dekat sekali mi rumahnya itu. dari benteng somba opu. Pembalap tonji juga, pastimi cepatko tiba.”

Saya berperang batin dengan diri sendiri, hampir sekitar setengah perjalananku dihabiskan hanya untuk mengantisipasinya. Perang paling tak mudah bagiku, adalah perang melawan diri sendiri. Meski perangnya alot, sisi ‘positif thinking’ saya yang menang.

“Tak perlu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Kita tak bisa menolak takdir. Ada masanya, kita hanya bisa mengikhlaskannya.”

Saya tiba di jembatan sungai je’neberang setelah menempuh perjalanan se jam lebih. Ada ibu baik hati yang bersedia memotretku.

di depan jembatan sungai je'neberang

Saya berjalan kaki dari jembatan menuju Benteng Somba Opu. Di pinggir jalan, saat masih di jembatan, ada seorang gadis yang memelankan laju motor maticnya.

Saya berinisiatif untuk menumpang. Untungnya, gadis itu memang berniat memberikan tumpangan kepadaku, cuma malu untuk memulai pembicaraan.

Sebut saja ia Dewi penolongku.

Sebut saja ia “Dewi penolongku”.

Kami sempat saling bertukar cerita, ia adalah gadis yang baru lulus SMP dan berniat mau nonton balapan liar di sekitar kawasan benteng somba opu. Tapi, karena ingin menolong saya, ia mengurungkan niatnya.

Berdasarkan petunjuk @komunitasMks :

“Twitpic foto kamu di depan rumah adat suku Kajang. Sertakan hestek #TantanganPos5 #ReliWisataPKM

Ia mengantarku sampai di depan rumah adat kajang, yang berada di dalam kawasan Benteng Somba Opu. Ia pun meninggalkanku saat kutiba di tujuanku.

Dan inilah papan nama rumah adat kajang.

Rumah adat suku kajang

Foto ini dibantu oleh pasangan muda mudi yang lagi pacaran. Bahkan mereka sendiri yang menyarankanku untuk manjat ke tiang, agar lebih kentara.

====#TantanganPos5 #ReliWisataPKM berhasil kutaklukkan====

Menuju lokasi #TantanganPos6 #ReliWisataPKM adalah tantangan paling tak mudah menurutku.

“Cari monumen pejuang wanita yg menolak menyerah terhadap Belanda dgn melemparkan granat. Twitpic dgn #TantanganPos6 #ReliWisataPKM

Lokasinya cukup tak mudah djangkau dengan pete-pete. Dari benteng somba opu menuju monumen emmy saelan di jalan hertasning, butuh sampai 2 kali gonta ganti pete-pete.

Untungnya, saat saya masih di kawasan benteng somba opu, saya bertemu lagi dengan Dewi penolongku. Ia menawarkan diri untuk mengantarku sampai jembatan.

Saat ngobrol di perjalanan, ia terus saja bertanya padaku, asal usulku? kegiatan apa yang sedang kuikuti? kemana lagi tujuanku selanjutnya?

Setelah tahu bahwa saya bakalan sangat ribet, mesti gonta ganti pete-pete sampai 2 kali, ia terus melaju di jalan raya, meski kami sudah tiba di jembatan. Ia berniat mengantarkanku ke jalan Dg. Ngeppe, sehingga dari situ saya hanya tinggal satu kali transit.

Ia sempat bertanya padaku, “banyakji itu uang dibawa?”

Saya menjawab ,”iya, banyakji”.

“oh, hati-hatiki pale’ nah, jalan ki sedikit ke depan, baru belok kiri. Kukasi turunmeki disini nah, ada polisi sementara jaga”, ia menasehatiku.

Kami pun berpisah setelahnya, saya tak lupa mengucapkan terima kasih padanya. Dalam hatiku berbisik doa, semoga ia dimudahkan dalam segala urusannya dan rezekinya dilapangkan.

Saya jadi teringat, oleh seorang kawan yang sebelumnya sudah kusms untuk kumintai pertolongan, mengantarku dari lokasi satu ke lokasi lainnya, hari ini. Ia hanya membalas sms pertamaku, yang menanyakan keberadaannya, dan tak lagi membalas sms setelah itu.

Dari sini saya belajar, harusnya kita bersyukur karena dimintai pertolongan. Karena saat orang meminta tolong, hatinya telah diberi petunjuk oleh Tuhan untuk meminta tolong, pada hambaNya yang layak.

Kalau kita menolak/menghindari moment itu, kita telah melepas satu kesempatan untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan (semoga cocokji istilah kata yang kugunakan, mohon maaf kalau salah). Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Saat sudah di atas pete-pete, saya lalu mengecek uang di kantong, karena masih ingat pertanyaan Dewi penolongku tentang banyakji kah uang kubawa.

Ternyata, uangku tinggal 10ribu rupiah. Kalau dipakai membayar pete-pete ini, bakalan tinggal 6ribu rupiah. Masih ada sekali naik pete-pete lagi, untuk tiba di #TantanganPos6 #ReliwisataPKM.

Kalau begitu, hanya bakalan tersisa 2ribu rupiah, sebagai modalku untuk pulang. Sedangkan, dari Pos 6 menuju rumahku, butuh lagi sekali naik pete-pete. Tidak cukupmi ini uangku untuk bayar pete-pete pulang.

Saya sempat tidak tenang. Telepon genggamku pun lobet. Ada pesan masuk di telepon genggamku dari @zhoelfadlhy dan menanyakanan keberadaanku sekarang. Kuberitahu kendalaku dan kuminta ia menungguku di lokasi #TantanganPos6. Ia lebih duluan tiba di lokasi. Saya ingin meminjam powerbanknya untuk menyelesaikan tantangan.

Alhamdulillah, supir pete-pete tahu persis lokasi Monumen Emmy Saelan. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke tempat itu. Saya bahkan tak tahu bahwa kurang lebih 200 meter dari SPBU hertasning, ada monumen bersejarah, yang agak tersembunyi di belakang ruko-ruko.

Monumen maha Putra Emmy Saelan

Foto bareng bocah di sekitaran monumen emmy saelan

Keberhasilanku menyelesaikan tantangan pos 6 karena bantuan penuh dari @zhoelfadlhy (zul). Tanpanya, apalah artinya usaha saya, saat tiba di lokasi.

Oh iya, foto-foto saya selama di depan monumen wisata yang kulalu di beberapa pos, semuanya adalah jepretan zul (kecuali, foto di kawasanbenteng somba opu). Karya jepretnya selalu bisa menangkap moment pas dari ekspresiku.

Petualangan tak berhenti sampai disini. Saya ke atm untuk ambil uang. Mungkin memang sudah saatnya, saya sekalian ambil uang buat bayar hosting, yang jatuh temponya akhir bulan ini.

Setelah itu, zul dan saya menyusuri jalan hertasning, belok kanan ke jalan baumangga hingga pengayoman, untuk mengambil pete-pete ke arah jalan dipenogoro. Kami mengobrol banyak hal, meski lebih banyak bahas soal kegiatan komunitas berikutnya. Ia menungguku sampai dapat pete-pete yang jumlah penumpangnya tak terlalu banyak dan sedikit.

Saya tiba di rumah sekitar jam 8 malam. Mandi. Makan. Lalu tepar sejenak. Setelah agak enakan, kutulis kisah perjalananku hari ini di blog.

Tantangan yang sebenarnya bagiku, dalam mengikuti setiap pos tantangan, adalah tantangan untuk menuliskan kisah perjalananku, saat mengikuti tantangan #ReliWisataPKM pada hari itu.

Letihnya raga dan pikiran yang meminta untuk diistirahatkan, malah digenjot lagi untuk menulis. Saat peserta lain mungkin sudah pindah ke dunia kapuk, saya masih duduk cantik di depan laptop untuk menuliskan wisataku.

Selain wisata tempat bersejarah, saya juga wisata hati. Kuambil makna dari setiap perjalanku dan kuabadikan menjadi tulisan.

nb: sepertinya saya khilaf dan tak ingat untuk shalat magrib, hari ini (doh)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *