Karangan Bebas

Jadi guru sehari

2 Maret 2015

Pertemuan dadakan program Nulis Bareng Sobat (NBS), pada 14 Februari 2015, bertajuk mengaplikasikan 5W+1H ke dalam tulisan “Sahabatku”, semata-mata karena menggantikan wali kelasnya yang sedang tak sehat.

wajah ceria murid SD Negeri Paccinang
Wajah ceria anak SD Paccinang. Foto oleh Ica.

Keceriaan anak-anak senantiasa membuatku bahagia.

Davina berulang tahun. Saya senang bisa jadi bagian dari hari kebahagiaannya. Tulisannya selalu lebih unggul dalam pemilihan kata dan kesesuaian penulisan berdasarkan EYD bila dibandingkan teman-temannya.

Davina bisa menuliskan dialog atau kalimat langsung dengan benar. Kosakata yang digunakan dalam tulisannya lebih variatif. Ketika temannya masih terbiasa menulis kata ‘tidak’, Davina lebih sering menggunakan kata ‘tak’.

Saya yakin, Davina suka membaca buku cerita sambil mempelajari pola penulisannya. Kemampuannya terasah dengan menulis.

Foto bersama Davina dan Yurika. Foto oleh Fany.
Foto bersama Davina dan Yurika. Foto oleh Fany.

Ada pula Yurika yang memberiku gelang. Ia setuju bila kuberi nama “gelang persahabatan”. Fany, meskipun telat datang, juga dapat gelang persahabatan.

Fany, Ica, dan gelang persahabatan
Fany, Ica, dan gelang persahabatan. *foto edisi selfie*

Saat kewalahan mengkordinir kelas, minta tolong adalah cara alternatif.

Saya meminta tolong kepada Zahra mengajar temannya agar mengerti 5W+1H ketika situasi kelas lagi tak tenang dan anak-anak berebut untuk dapat penjelasanku.

Zahra dan tulisan bijaknya
Zahra dan tulisan bijaknya. Foto oleh Ica.

Zahra cerdas dan bijak untuk anak seumurannya. Ia selalu menunjukkan kemajuan setiap pertemuan NBS. Senantiasa memperhatikan setiap koreksi yang diberikan. Berikut tulisannya bertajuk sahabatnya.

Karya Zahra
Karya Zahra. Foto oleh Ica.

Ayu dan Zahra bersahabat. Berikut tulisan Ayu yang bercerita mengenai Zahra. Dalam pertemuan ini, Ayu mendapat poin tertinggi karena dari segi kerapian tulisan, kecocokan penulisan, serta kemampuannya mempraktikkan 5W+1H lebih unggul dibandingkan teman lainnya.

Karya Ayu Wulandari
Karya Ayu Wulandari. Foto oleh Ica.

Menulis adalah cara lain untuk bercerita. Ternyata, Adlyah juga menolongku saat proses belajar mengajar berlangsung. Ia menenangkan Nur Wahdania yang menangis setelah mengganggui temannya, Ilham. Itupun saya tahu setelah membaca tulisan Adlyah.

Saya selalu suka ketika membaca tulisan Resky Nurhalisah. Membaca adalah cara lain untuk mengenali sifat, pola pikir, dan kepribadian penulisnya. Dari tulisannya, saya jadi tahu bahwa ia adalah anak yang sangat pengertian.

Kurang rasanya jika hanya membaca buku diarinya dan langsung membuka halaman tugasnya. Saya selalu senang membaca tulisan-tulisan sebelumnya. Seperti pada “ayo ceritakan cita-citamu”. Ia bercerita keinginannya menjadi guru:

“Aku harus mengajari anak murid tidak sering bertengkar, kita harus damai, aman, dan saling menyayangi dan kita harus mengajari murid-murid dengan sopan jika ada tamu.”

“Aku harus rajin belajar supaya menggapai cita-cita. Ajari anak murid dengan baik dan sabar, tidak boleh pukul anak murid dengan keras. Guru harus bertanggung jawab.”

“Aku harus bertanggung jawab jika anak murid luka. Aku harus turuti perintah Bu Guru, sopan dengan guru dan orang tua, dan tidak boleh diejek-ejeki orang tua dan guru dan teman.”

Di benakku masih tersimpan bagaimana ia sangat pengertian terhadap orang tuanya dengan menghindari kehujanan agar selalu sehat. Ia ingin agar orang tuanya bisa fokus mencari nafkah buat ia dan saudara-saudaranya tanpa perlu kerepotan ketika ia tak sehat. Dituliskan pada pertemuan NBS (Nulis Bareng Sobat) bertema “Ayo menulis tentang hujan”.

Tulisan Resky Nurhalisah selalu memberi kesan tersendiri.

Resky Nurhalisah, siswi SD Negeri Paccinang. Foto oleh Fany.
Resky Nurhalisah, siswi SD Negeri Paccinang. Foto oleh Fany.

Menurutku, Alfred Chatelio dan Arjun P. Sampe adalah anak hebat. Mereka selalu menunjukkan antusias menulisnya selama di kelas.Selalu bersemangat memperhatikan materi di setiap pertemuan.  Selalu mengeluarkan kemampuan terbaik untuk menghasilkan tulisan dalam setiap pertemuan.

Alfred, Arjun, Muh. Rezky, dan Nur Wahdania. Foto oleh Fany.
Dari kiri ke kanan, Alfred, Arjun, Muh. Rezky, dan Nur Wahdania. Foto oleh Fany.

Begitupun Muh. Rezky Adisaputra, yang setelah dikoreksi pada pertemuan sebelumnya tulisannya tidak rapi. Setelah disarankan agar pertemuan selanjutnya tulisannya lebih rapi. Akhirnya, tulisannya lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Meskipun masih ada coretan, tapi ia menunjukkan kemajuan. Kelihatan sekali usaha kerasnya untuk menjaga kerapian tulisannya. Jika kalian memperhatikan sendiri kalian akan mengerti.

Reski Triade, anaknya pendiam, tubuhnya tambun, rambutnya tak cukup 2 cm, bercita-cita ingin jadi polisi. Ia anak pendiam, selalu duduk gagah di tempatnya dan tenang memperhatikan relawan NBS. Kalaupun sedang tak memperhatikan, ia asyik dengan kegiatannya dan tetap tenang.

Meskipun temannya yang lain tak tenang, ia selalu memperhatikan penjelasanku di depan kelas. Terbukti dari buku diarinya yang selalu kutemukan dalam deretan tulisan yang ingin diperiksa.

Karya Reski Triade. Foto oleh Ica.
Karya Reski Triade. Foto oleh Ica.

Setiap anak punya keunikan tersendiri.

Afrisa menempelkan kertasnya ke dalam buku yang digunakan ketika ia lupa bawa buku. Ia sangat cekatan menjaga karyanya.

Ayesha adalah contoh anak yang konsisten mempertahankan kemampuan menulisnya, meski kemampuan penempatan huruf besar dan huruf kecil sudah benar dan kupuji berulang kali. Hal yang harus diperhatikannya adalah harus lebih sering membaca agar pemilihan katanya bisa lebih variatif dan sanggup menulis lebih banyak.

Fitri selalu melakukan sesuatu sebaik-baiknya, jika kutegur kesalahan penulisannya, ia perbaiki dan pantang menyerah untuk menghasilkan tulisan terbaik. Ia selalu menulis lebih banyak.

Selalu lebih baik dari sebelumnya juga menjadi ciri khas Siti Nurhalisah dan Suci Nur. Mereka juga memperhatikan koreksi yang kuberikan dan memperbaikinya pada tulisan berikutnya. Mereka berkembang, meski tak drastis seperti teman lainnya. Hanya tinggal mengembangkan kemauan untuk membiasakan. Jauh lebih bagus, bila mereka terbiasa menulis dengan penulisan yang benar sesuai koreksi yang saya berikan.

Kalau urusan kerapian tulisan saya terkagum sama Rausyan, Rifadly, Aqiil, Ivan, dan Ramadani. Jika dibandingkan dengan kerapian tulisan tanganku, mereka lebih unggul. Andai mereka memiliki kemauan dan antusias untuk menulis lebih banyak, saya yakin mereka bisa jauh lebih mengungguli teman-teman lainnya. Ini hanya soal kemauan dan antusias.

Rausyan menjadi siswa tercepat yang mengumpulkan tulisannya pada pertemuan ini, bahkan menuliskannya menggunakan bahasa inggris. Meskipun tak sesempurna yang diharapkan, kemauannya menulis dan berbahasa inggris patut diapresiasi.

Karya Rausyan
Karya Rausyan. Foto oleh Ica.

Saat sesi games menulis berantai, saya tak tepat memberi instruksi. Standar yang kuberikan terlalu tinggi.

Saya ingin anak-anak menuliskan satu kalimat, lalu anak lain melanjutkan kalimat berikutnya, lalu dilanjutkan oleh anak lain lagi. Begitu seterusnya, sehingga akan ada banyak tulisan anak dalam satu kertas.

Dari kiri ke kanan. Ramadani, Aqiil, Ivan, Rias, Defraniel. Foto oleh Fany.
Setelah sesi games tulisan berantai. Dari kiri ke kanan, Ramadani, Aqiil, Ivan, Rias, Defraniel. Foto oleh Fany.

Aqiil, Ivan, dan Ramadani malah menulis seperti berdialog dalam kertas.

Tulisan berantai dialog Ivan, Aqil, dan Ramadani
Tulisan berantai dialog Ivan, Aqil, dan Ramadani. Foto oleh Fany.

Beberapa tulisan berantai yang dikumpulkan bahkan cenderung bercerita seputar curahan hati (curhat) atau hasil dari pengamatan kondisi kelas.

Tulisan berantai
Tulisan berantai. Foto oleh Fany.
Tulisan berantai (dua). Foto oleh Ica.
Tulisan berantai (dua). Foto oleh Ica.
Tulisan berantai (tiga). Foto oleh Ica.
Tulisan berantai (tiga). Foto oleh Ica.
Tulisan berantai (empat). Foto oleh Fany.
Tulisan berantai (empat). Foto oleh Fany.

Salah satu tujuan NBS adalah melatih kepekaan anak terhadap sekitar. Mungkin karya anak dalam tulisan berantai bisa jadi indikator penilaian keberhasilan NBS selama ini.

Teman sebangku, Imelda (alm.), St. Nadia, dan Wahdania tak menuliskan tugas mengenai sahabat. Bahkan tak ikut bermain games. Namun, mereka tetap menulis, seputar perkenalan diri. Dari tulisan mereka, saya dapat menyimpulkan bahwa ketiganya hobi memasak. Jadi ingin mencicipi enaknya masakan mereka.

Saya menulis postingan ini berdasarkan fakta menarik serta keunggulan yang kutemui dari anak-anak kelas IVA SD Negeri Paccinang Makassar.

Diantara murid SD Negeri Paccinang. Foto oleh Yurika.
Diantara murid SD Negeri Paccinang. Foto oleh Yurika.

Pengalaman jadi guru sehari, bertugas mengajar sekaligus mengoreksi sendiri tulisan anak-anak membawa saya pada kesimpulan bahwa terpujilah para guru di dunia ini yang mampu menemukan bakat setiap murid lalu mengarahkannya ke hal positif.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply