Jeda Sejenak

Jeda Sejenak

By : -

Ahhh…sepertinya sudah lama menamatkan membaca buku ini. Sudah sejak dulu meniatkan diri untuk menuliskan ke dalam blog mengenainya. Namun, selalu saja rasa malas atau bahkan kesibukan yang menggerogoti tangan sehingga belum menuliskannya hingga sekarang.

Sebuah buku, berjudul Jeda Sejenak, ditulis oleh seorang teman sefakultas di kampus yang kebetulan Kami diakrabkan satu sama lain dalam suatu situasi jauh dari rumah kami masing-masing dan hidup bersama dalam satu atap selama dua bulan bersama rekan-rekan lainnya dimana situasi tersebut lebih dikenal dengan sebutan masa-masa Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Mumpung yang nulis Jeda Sejenak ini adalah rekan semasa KKN jadi untaian tulisan tangannya Saya manfaatkan sebagai buah tangan untuk ditorehkan di halaman pertama pada buku sebagai media yang disebut tanda tangan penulis dan sebaris pesan untuk pembacanya. Yachhh…tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah buku pertama yang Saya miliki lengkap dengan tanda tangan penulisnya.

Sesuai judulnya yakni Jeda Sejenak, entah karena ekspektasi penulisnya yang ingin bukunya dibaca ketika para pembaca lagi jeda sejenak dari kehidupannya atau karena memang buku ini memang lebih asyik dibaca ketika lagi jeda sejenak dari rutinitas kehidupan. Kalau Saya sich lebih cenderung ke alasan yang kedua karena memang buku ini lebih ngena dibaca ketika sedang berada di situasi jeda sejenak, ibarat jejeran tombol dalam player film di pemutar video yang ketika kita memencet tombol “pause” dengan niat hanya untuk sejenak mengucek-ngucek mata sembari mengistirahatkan mata atau untuk mengambil waktu sejenak untuk ambil cemilan di dapur atau melakukan ritual ‘panggilan alam’.

Ketika membalik bukunya ke sisi belakang, kita akan menemukan beberapa baris kata-kata diuntai menjadi beberapa kalimat dan menjelaskan keseluruhan Jeda Sejenak, sebagai berikut :

JedaSejenak“Jeda Sejenak adalah kumpulan tulisan renungan tentang bagaimana melewati hidup dengan lebih berarti. Terkadang, karena derap waktu yang begitu cepat, tanpa sadar kita melewati berbagai macam peristiwa yang sejatinya sarat akan makna. Tulisan ini hadir sebagai ajakan untuk berhenti sesaat dari berbagai aktifitas kita, untuk tafakur dan merenungi tentang nikmat Allah yang begitu banyak, tentang eksistensi kita sebagai khalifah di muka bumi, juga tentang kematian yang pasti datangnya, namun begitu sering kita lupa. Teori-teori yang melekat di antara tiap untai kalimatnya dan pada bait-bait sajaknya mungkin telah kita hafalkan di luar kepala. Namun, agaknya kita selalu butuh waktu untuk dapat memahaminya, bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan hati. Agar lebih mudah mengejawantahkannya dalam bentuk amal nyata. Dalam derap langkah penuh kesyukuran, kepada cinta kita untuk kebenaran, dan dalam perjalanan pulang ke negeri akhirat, seharusnya kita selalu mengambil rehat untuk jeda sejenak.”

Jeda Sejenak dengan keunikannya menjadi tema pembeda dari beberapa koleksi buku yang tersembunyi berserak di rak dan Good Job untuk Ar Rifa’ah yang menyajikan Jeda Sejenak sebagai pengobat rindu di kala Saya terlalu sibuk menghabiskan waktu untuk urusan duniawi semata.

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *