Karangan Bebas

Judulnya tentang Impian

4 Juli 2013

Kalau ditanya definisi impian, maka kita akan menemukan definisinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti sesuatu yang sangat diinginkan atau diidam-idamkan.

Saya, yang dulu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pesantren di Pangkep, pernah memiliki impian ingin menjadi siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Unggulan di Makassar dan Alhamdulillah impian itu sudah terwujud pada tahun 2004 silam.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kelas, saat kelas 3 SMP, Saya melihat kondisi yang cukup unik bagiku. Saat itu, meja dan bangku kelas diatur sedemikian rupa agar susunannya menyerupai bentuk huruf “U”.

Karena melihat ekspresi Kami, yang heran mengenai situasi kelas yang tidak seperti biasanya, Wali kelas memberitahu Kami bahwa situasi kelas saat itu diadaptasi dari susunan bangku dan meja di SMA Negeri Unggulan Makassar yang diharapkan agar proses belajar mengajar lebih kondusif.

Beliau berharap Kami bisa lebih efektif belajar dengan situasi kelas seperti itu. Beliau senantiasa menginspirasi dan mengiming-iming Kami agar berani memiliki impian yang lebih besar misalnya melanjutkan sekolah di SMA Negeri Unggulan Makassar.

Satu kalimat beliau yang senantiasa teringat olehku adalah “lebih baik menjadi orang bodoh diantara orang pintar, dibandingkan menjadi orang pintar diantara orang bodoh”. (Silahkan memaknai sendiri nasihat beliau)

Saya –yang masih belia dan mudah terpengaruh– akhirnya memutuskan untuk memiliki impian bersekolah di SMA Negeri Unggulan Makassar, meskipun saat itu orang menganggap bahwa hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Apalagi bila menyelisik asal usul Saya yang bersekolah di SMP Pesantren yang cenderung lebih mempelajari ilmu agama. Namun, bermodal kalimat bijak dari beliau lah yang menguatkan diri Saya untuk belajar lebih rajin dan berdoa lebih giat agar impian Saya terwujud.

Hingga tiba masanya pendaftaran siswa baru, SMA Unggulan di Makassar itu mengadakan tes masuk lebih awal dibandingkan sekolah lainnya. Saya dan teman-teman Pesantren mengikuti tesnya, namun saat pengumuman kelulusan tidak ada diantara kami yang lulus. Saya pun pasrah dan mencoba peruntungan dengan mendaftar ke SMA negeri lainnya.

Hingga pada suatu malam, Kepala Sekolah SMA Negeri Unggulan Makassar itu menghubungi telepon rumahku dan saat itu Ayahku yang menerima langsung kabar bahwa Saya dinyatakan “lulus” sebagai Siswi SMA Negeri Unggulan di Makassar itu.

Kronologi ceritanya adalah ternyata siswa yang diterima di sekolah itu harus berjumlah 180 orang. Pada saat pengumuman, nama Saya tidak tercantum di daftar 180 siswa tersebut. Namun, ada sekitar 14 orang yang mengundurkan diri karena dinyatakan lulus di Sekolah Unggulan TinggiMoncong dan lebih memilih untuk bersekolah di sana.

Sehingga untuk memenuhi kuota 180 orang yang harus diterima, maka diambil nama orang yang urutan hasil ujiannya berada antara 181-194. Nama Saya tercantum pada urutan di nomor 192 (nyaris yach, tinggal dua orang lagi loch di bawah nama Saya).

Saat itu, Saya hanya mampu bersyukur sebanyak-banyaknya karena hal ini tidak akan terjadi tanpa bantuan ALLAH SWT yang Maha Kuasa. Pengumuman bahwa Saya dinyatakan “lulus” itulah yang menjadikan impianku terwujud.

Sejak impian itu terwujud, Saya seperti orang kehilangan arah dan terjebak dalam rutinitas tanpa tujuan yang jelas. Saya tidak mampu menyalahkan hiruk pikuk-nya proses menuntut ilmu di kawasan Sekolah Unggulan dan sangat menyita waktu bagi remaja yang masih mencari jati diri seperti Saya.

Saya sangat menyadari bahwa Saya kehilangan sosok yang bisa menginspirasi seperti Wali Kelasku saat kelas 3 SMP.

Kalau diteliti lebih dalam sich bukan karena faktor lingkungannya, namun Saya –pada saat itu– termasuk orang yang tidak akan memiliki tujuan yang jelas, bila tidak dituntun oleh Sang Inspirator.

Hingga suatu hari, Saya dipertemukan dengan kutipan menarik di buku 8 Habit karangan Stephen Covey, isinya seperti ini:

“Dalam hidup setiap orang, pada suatu saat, padamlah api dalam diri.

Api itu kembali menyala karena pertemuan dengan orang lain.

Kita semua seharusnya berterima kasih kepada orang-orang yang kembali mengobarkan semangat dalam diri kita.”

Albert Schweitzer

Saya akui bahwa Saya pernah berada dalam fase dimana api dalam diri padam, bahkan cukup lama merasakannya. Silahkan bayangkan sendiri berapa lama waktu yang Saya habiskan untuk tersesat dalam fase itu, bila dimulai sejak tahun 2004 silam dan berakhir sekitar awal tahun 2013 ini.

Saya sangat merasa iri dengan orang-orang yang bisa tahu lebih awal apa yang diimpikannya. Apalagi bila dibandingkan dengan diri Saya yang tidak tanggap dalam meraba seperti apa wujud impian yang ingin kucapai.

Saat ini, Saya masih bertanya-tanya seberapa banyak orang yang sedang melalui fase yang pernah kualami itu ? Meskipun batinku berharap bahwa cukup Saya saja yang pernah mengalami fase seperti itu.

Jika menemukan orang yang mengalami fase yang pernah kualami itu, Saya memohon pertolonganmu untuk menjadi Sang Inspirator bagi mereka.

Kalau sempat, bisakah Kamu membantu untuk menyalakan kembali api dalam diri Mereka ?

Kalau sempat, bisakah Kamu membantu untuk mengobarkan kembali semangat dalam diri Mereka.

Kenapa Saya meminta pertolonganmu ?

Karena Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. 

Kenapa bukan Saya sendiri yang melakukannya ?

Karena

“Kebersamaan adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah keberhasilan.”
– Henry Ford

 

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply arga litha 5 Juli 2013 at 09:58

    fase di mana api dalam diri padam? saya mah sering, padahal rajin bayar listrik :p yaah begitulah manusia, semangatnya turun naik

    Semoga semua impianmu terwujud 🙂
    terima kasih, sudah terdaftar yaa ^^

    salam manis,
    @argalitha

    • Reply Nurfaisyah 7 Juli 2013 at 09:09
        Aamiin, terima kasih.
        Doa yang sama buatmu (worship)
  • Reply haadziq 6 Agustus 2013 at 12:50

    crtanya ane bnget, tpi api dalam dri mash padam nih.

    dlu impianya msuk ptn ITS, udah setahun yg lalu ktrima di ITS, tpi skrang mlah bngung mau ngapain.
    klo dtanya apa impianmu? ane jawab skeananya wlaupun g yakin apakah emang itu impian ane.
    “jadi insinyur, dan buka PT” 😀

    • Reply Nurfaisyah 10 Agustus 2013 at 19:23

      Semangat dan mari saling menyemangati (goodluck)

    Leave a Reply