Jumat

Dear Jumat,
Aku tetap acuh padamu. Bukan sengaja lupa. Aku ingat. Menulis surat padamu.

Buktinya, Aku tetap menulis surat buatmu. Pada hari Jumat. Sambil berbaring pada kasur empuk. Di kamar gelap. Kedinginan. Cuaca dingin selepas hujan. Hembusan kipas angin. Terlampau menusuk tulangku.

Emosi di dada. Tertahan. Tertumpuk. Terakumulasi. Ingin kuhempaskan seluruhnya. Keluar. Tak bersisa.
Sudah sih, sebagian. Pada orang dan situasi tak tepat. Tempat sampahnya terlalu bersih untuk dikotori. Sungguh malang. Tak beruntung.

Masih banyak unek-unek yang ingin kusampaikan. Tapi sama siapa? Ke sosial media? Orang akan menanggapi (lagi), diriku bukan orang waras.

Pasti, ada orang yang berkomentar, “sosial media bukan tempat sampah.” Berusahalah untuk tak mengeluh.

Heiii, Bagi wanita, hal itu bukan hal mudah untuk dijalani. Kuakui anda bijak saat bernasehat seperti itu. Tapi, bijak yang terkadang nampak mudah dijalani. Bila untuk menasehati orang lain.
Coba laksanakan sendiri nasehatnya, bisakah?

Wanita butuh wadah untuk ia berbicara. Makanya, keluhan pada media sosial didominasi wanita. Pasti ada yang berkata, “saya wanita. Jarang mengeluh atau bahkan menghindarinya di media sosial.” Saya yakin, ia pasti sudah punya kawan bicara. Untuk menyalurkan pikirannya. Sahabat atau pasangan hidupnya. Kalaupun tidak, mungkin ia punya buku diari, blog, atau semacamnya sebagai wadah mengeluarkan unek-uneknya.

Kalaupun ada yang tak sesuai dengan hipotesaku, mungkin ia memang orang hebat. Apalagi soal mengatur emosi dan suasana hatinya.

Kalau begitu, Saya akan berdoa untuk dipertemukan dengan orang seperti itu. Supaya bisa belajar padanya.

Maaf. Saya bukan pria. Setegar batu karang. Menjadikan hobi sebagai penyalur emosi. Distraksi.

Biar bagaimana pun, saya tetaplah wanita. Butuh didengarkan. Butuh wadah untuk menyalurkan isi pikiranku. Hanya sedikit, dari ocehanku, butuh ditanggapi dengan solusi.

Jumat, maafkan aku. Menunda pengiriman surat buatmu. Cuma sehari kog. Itu pun bukan disengaja. Tidak semua hal bisa dilakukan sesuai rencana. Karena itulah dikenal istilah ‘kompromi’.

Jumat, berdamailah denganku. Terimalah realita. Surat untukmu tertunda sehari. Hanya sehari.

Saat menuliskan ini, paket internetku sedang habis. Mau beli pulsa untuk aktifkan paket internet, tapi lagi malas gerak ke luar rumah. Wajahku sudah kuberi obat. Proyek swamedikasi terhadap jerawat.
“kan adaji laptop, bisa dipakai OL?”
Sayangnya, laptopku belum kunjung sembuh. Itu saja, tanggung jawab KIku masih bersemayam di benak, “skorring berikutnya, bagaimana akan kukerjakan?”
Satu-satunya hal yang bisa kupasrahkan. Tetap berpikir positif terhadap rahasia ilahi. Berpulang padaNya. Nikmat Tuhanku mana lagi yang mau kudustakan.

Jumat, sampai jumpa di pekan berikutnya.

Salam (tak) hangat,
Nurfaisyah

#HariKe14 #30HariMenulisSuratCinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *