Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran

Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran

By : -

Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran

“Kak Ica, kenapa mirip dengan kisahmu?” Tanya Ita, teman kantor saya, menyela saat saya membacakan satu penggalan tulisan mengenai Kepastian di Perjalanan Rasa.

Buku Perjalanan Rasa karya Fahd Jibran merupakan bacaan saat senggang saya, pekan ini. Tulisan sepanjang 1,5 – 2 halaman dalam tiap bab Perjalanan Rasa akan menarik jika dibaca dengan bersuara dan lebih seru bila ada yang mendengarkan.

Pada tiap akhir kata sebuah tulisan, akan menjadi judul pada tulisan berikutnya. Serangkaian tulisan sarat makna melengkapi tiap rangkaiannya. Menjadikan saya turut berlabuh dalam Perjalanan Rasa. Terkadang, saya terhenti sejenak untuk merenung, berdialog dengan diri sendiri. Bukunya terkesan menasehati dengan cara penyampaian  yang sederhana.

Perjalanan Rasa Fahd Jibran

Perjalanan Rasa Fahd Jibran

Sabtu pagi, 18 Juni 2016, saya menawarkan Ita tuk dibacakan Perjalanan Rasa, sembari menunggu kedatangan teman lain. Setelah dibacakan satu cerita, Ita tertarik pada satu kata. KEPASTIAN memilih Ita, saat saya secara acak membuka halaman per halaman. Ita penasaran dengan “Kepastian”.

Ketika saya mulai bernarasi, pikiran Ita pun menggambarkan adegan-adegan dari setiap kepingan kalimat yang terucap. Saat saya bingung mengucap dialog yang berangkai ekpresi tokoh, Ita bantu mencontohkan. Kami tertawa saat secara bersamaan mempraktekkan ekspresi tokoh dengan intrepretasi masing-masing.

“Senja itu kita duduk berdua di cafe langganan kita,”Adam, kita ini apa? ” Tanyaku, ragu-ragu.

“Kita?” Jawabmu, tersenyum, “Kita adalah dua manusia yang masih bisa berbahagia.”

Potongan dialog Yola saat meminta kepastian dari Adam, membuat Ita menyeletuk, “Kak Ica, kenapa mirip dengan kisahmu?”

Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran

Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran

Paragraf demi paragraf berikutnya, membuat Ita tersenyum-senyum tertahan. Dalam benak Ita, tokoh Yola dan Adam sudah tergantikan oleh saya dan lelaki yang Ita tahu persis namanya. Lelaki yang dalam beberapa bulan terakhir, Ita sering dengar saya menyebut namanya. Ita pernah melihat sosok lelaki itu, meski hanya sekali. Itupun cuma sekilas dan dalam waktu sepersekian detik. Ita senantiasa jadi pendengar baik ketika saya berkisah mengenai lelaki itu. 

Hingga saya membaca kalimat penutup “Kepastian”, yang akhirnya menjadi kutipan favorit, semakin mengiyakan pertanyaan Ita. Saya cuma bisa pasrah dan berusaha tersenyum menghadapi tudingannya. Mungkin saja Ita benar. Ita kan selalu benar, apalagi soal insting. Bahwa kisah dalam buku, dimanapun itu, terkadang mirip dengan dunia nyata para pembacanya. Padahal jelas tertulis bahwa Perjalanan Rasa berkategori Novel/Fiksi.

Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran-2

Kepastian dalam Perjalanan Rasa Fahd Jibran-2

Malam harinya, Ita mengirimi saya foto melalui pesan Whats App dan obrolan berlanjut hingga saya bercerita mengenai lelaki itu. Lagi. Cara Ita membalas pesan dan merespon setiap chat, mengingatkan pada seseorang yang dulu juga pernah menjadi teman ngobrol saya. Ita mirip dengannya.

Tanpa perlu pikir panjang, saya segera menyapa dia melalui pesan BBM dengan satu kalimat saja.

“Rindukaaaa”. Dan dibalas dengan, “ke rmh ki klo rindu hahaha”

Obrolan berlanjut dengan memastikan rumor terhangat dan seputar keseharian masing-masing hingga tak terasa sejam berlalu, dan chat terakhirku dibalas dini hari, jam 2.49 Wita. Oh iya, usaha saya menyapa orang yang lama tak diajak ngobrol, juga mendapat balasan berkah. Cue juga menyapa saya di saat yang hampir sama, melalui pesan Line. Betapa bahagianya saya.

Perjalanan rasa membawa kepastian bahwa rindu akan masa lalu hanya bisa dituntaskan dengan bertegur sapa. Menyambung kembali cerita yang terlewat oleh jeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *