khayalan brainstroming

Ada apa dengan cinta?

Dua hari ini kepalaku dikelilingi imajinasi hubungan antara dua manusia. Menamatkan dua buku, dalam dua hari, sungguh di luar dugaan. Hal menarik yang membuat akhir pekanku lain daripada yang lain.

Nomadic heart dan galuh hati jelas dua buku yang berbeda. Mulai dari penulis, alur cerita, hingga genre yang diusung. Namun, benang merah yang menghubungkannya adalah kisah cinta yang tak berakhir bahagia.

Entah ini settingan atau bagaimana, satu hal yang pasti, pikiran saya berkecamuk setelah menamatkan keduanya. Dada saya sesak.

Seperti ingin berdiskusi, namun tak bisa. Hanya ada diriku terbaring di kamar gelap bersama ponsel tak berpulsa bahkan tak berpaket internet.

Hanya satu yang bisa kulakukan. Menulis. Meski hanya bercerita satu arah. Itu sudah cukup melegakan. Saya berharap bisa segera bertemu dengan wifi gratis agar bisa segera memperbaharui postingan blog dengan hasil brainstorming-ku.

Cukup naif sepertinya, bila saya berasumsi bahwa:

“mungkin lebih seru jika suatu hubungan, antar pria dan wanita, dibangun atas dasar suka sama suka. Bukan karena si pria yang lebih getol deketin wanita sehingga wanita jadi luluh. Bukan juga karena si wanita yang lebih rajin menebar kode ke pria sehingga si pria naksir juga. Tapi, atas dasar rasa, yang dibangun bersama, dari nol.”

Keduanya berkenalan, awalnya mereka sama sekali tak punya rasa, satu sama lain. Mereka mulai sering ketemu, sering ngobrol bareng, hingga akhirnya rasa itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Keduanya merasakan hal yang sama dan akhirnya happy endding. Sungguh khayalan yang saya amini saja wujudnya.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan ‘bangun cinta’. Ibaratnya sih seperti mendirikan suatu bangunan. Lain halnya dengan ‘jatuh cinta’ yang sering disebut-sebut. Berkawan dengan kata ‘jatuh’ saja, sudah cukup menyakitkan. Syukur-syukur bila setelahnya, tak membawa luka maupun duka.

Entah di belahan bumi bagian mana, ada pasangan yang ternyata sudah mengalami hal serupa khayalanku. Saya yakin, pasti seru jika bisa mengalaminya. Apalagi kalau akhirnya bisa berbahagia. Tak seperti akhir kisah cinta pada nomadic heart dan galuh hati.

bagaimana menurutmu?

 

Makassar, 2 November 2014.

Tinggalkan komentar