Kisah di balik Petunia

Akhir minggu ini cukup berbeda dengan akhir minggu sebelum-sebelumnya karena biasanya Saya lebih betah bercengkrama dengan kasur dan hari ini malah sebaliknya karena ada hal yang Saya harus lakukan.

Apakah itu? Itu adalah menyirami si Petunia yang belum lama ini telah menjadi kawan baru dan mengisi hari-hari Saya.

Hal tersebut terjadi sebagai wujud dari resolusi Saya untuk tahun ini yakni punya hobi menanam bunga dan itu dilakukan dari nol (menanam dari bibit) agar Saya juga ikutan menikmati prosesnya.

Pada suatu hari Saya dan Teman (Sebut saja si “A”) ketemuan di Kampus, si “A” memperlihatkan Petunia sambil menunjuk ke arah tanaman yang ada di sekitaran koridor buat pejalan kaki sambil menceritakan bahwa dia terobsesi dengan Petunia yang katanya merupakan properti di Serial Korea yang berjudul “Love Rain“. Akhirnya, saat itu juga, Saya pun memilih untuk menanam Petunia.

Bermodalkan motivasi tersebut, Saya pun membeli bibit “Dwarf Petunia Mix” dari toko bibit online dengan harapan semoga pada suatu hari bunga-bunga yang Saya tanam tersebut  bisa bermekaran berwarna-warni untuk melengkapi jiwaku yang senantiasa berwarna.

Hari ini adalah hari ke-6 Saya menikmati hobi baru bertanam Petunia, kemarin sich kata si “A” kalau umur tanamnya sudah mau seminggu biasanya sudah muncul tunas-tunas kecil sebagai pertanda adanya kehidupan. Namun, Saya tidak melihat ada apa-apa selain tanah dan cacing yang entah darimana datangnya.

Saya pun menceritakan apa yang Saya amati pagi ini ke “A” melalui pesawat Whats App. Si “A” mengeluarkan berbagai macam hipotesanya dan Saya selalu tangkis dengan alasan yang menurut Saya sesuai.

Iseng pula si “A” menyarankan untuk mengambil bunga Petunia yang pernah dilihat di kampus saja dengan asumsi bahwa kemungkinan ada anak-nya. Bingung juga menjelaskan istilah untuk anak-nya yang seringkali merupakan tanaman kecil yang biasa ada di sekitar tanaman besar yang biasanya tanaman kecil (adalah anak-nya) itu sama jenisnya dengan tanaman besar di dekatnya.

Saya masih belum mengiyakan saran iseng si “A” yang mungkin saja hanya candaan sambil mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tiba-tiba terpikir di benak dan Saya langsung menuliskan buah pikiran Saya ke “A” seperti ini (dengan penyesuaian sedikit EYD) bahwa :

Ternyata begini yach kalau memulai sesuatu dari nol, apalagi hal baru buat diri sendiri, yang senantiasa dicekoki harapan untuk memperoleh hasil yang cepat dan kadang kita tidak mengingat bahwa ada proses yang sedang dijalani.

Sepertinya si “A” mengalami “speechless” karena hanya membalas dengan ekspresi tertawa seraya berdoa semoga tunasnya bisa segera tumbuh. Kami pun masih membahas mengenai Petunia ketika Saya menuliskan ini.

Oh iya, melalui tulisan ini Saya ingin berterima kasih kepada Allah SWT yang telah mengizinkan si “A” dan Petunia Saya –yang sedang masa pertumbuhan– untuk mengajarkan satu hal kepada Saya. Semoga dalam waktu dekat ini si Petunia sudah berani memunculkan tunasnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *