Karangan Bebas

Konspirasi Alasan

23 Januari 2014

Saat Saya mencari alasan untuk melakukannya. Pada waktu bersamaan, alasan mencari Saya untuk melakukannya.

Saya berniat untuk menghadiri kegiatan bertajuk ‘Dua kawan Dua petualangan’ di Kedai Buku Jenny. Di waktu bersamaan, Saya ada agenda untuk ikut kegiatan sosialisasi ‘Kelas Inspirasi’ di bawah fly over. Awalnya, Saya tak berniat ikut keduanya. Dalih Saya adalah uang saku semakin menipis. Ayahku, pemasok uang jajanku, masih di luar kota.

Kalau diminta untuk jujur, Saya kepengen sekali ikut event di Kedai Buku Jenny. Alasannya karena ingin mendengarkan langsung kisah tentang Lontara Project oleh dua orang kawan. Silahkan searching di google bila ingin tahu lebih banyak tentang Lontara Project.

Saya pasrah. Bagi orang, uang bukan segalanya. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Kali ini, kebahagiaan Saya tergantung pada jumlah uang di dompet. Saya harus bisa mencukupkan keperluan uang transportasi pete-pete ke kampus, untuk beberapa hari ke depan. Kalau tidak, mustahil bagi Saya bila harus jalan kaki ke kampus.

Saya sadar kalau Tuhan Maha Kaya, rejekiNya melimpah. Bukan hanya melalui uang, pun dengan cari lain. Contohnya adalah ketika Tante Saya menelpon. Beliau sedikit berbasa basi sebelum akhirnya menanyakan kesediaan Saya hadir di ruangannya saat siang. Beliau akan memberikan uang SPP kepada Saya untuk semester berikutnya. Ayahku memberi amanah kepada beliau untuk membantuku yang kelimpungan. Aku baru tahu bahwa batas bayar SPP tinggal 3 hari lagi, sedangkan Ayah masih di luar kota.

Syarat yang harus kupenuhi adalah harus ke kampus dan bertemu di ruangannya sekitar jam 3 siang. Kalau pagi, Tante Saya masih di daerah. Karena menganggap ini hal penting, maka Saya harus merelakan diri membatalkan rencana untuk seharian di rumah. Saya harus ke kampus.

Ada info bahwa sebelum membayar SPP di bank, mahasiswa harus melapor lebih dahulu di rektorat bagian keuangan. Jadilah Saya berangkat lebih awal ke kampus. Saya sudah meninggalkan rumah sekitar jam 11. Setibanya di rektorat bagian keuangan, ternyata sudah jam istirahat. Pegawainya menyuruhku datang sekitar jam 1. Saya pasrah. Saya keluar dari ruangan dan menuju ke lift. Tetiba ada suara dari belakang memanggil nama Saya. Setelah mendekat ke orang tersebut, ternyata dia Atf (nama disamarkan), adik kelasku waktu SMA. Saya baru lulus SMA saat Atf mulai mengenakan seragam putih abu abunya. Jadi, pertama kali kenal dengannya bukan pada masa SMA, Kami malah bersua dalam kegiatan komunitas. Pertemuan tak direncanakan dengan Atf membuatku bahagia. Atf bisa kutemani ngobrol sembari menunggu waktu berlalu.

Kami berbincang-bincang cukup lama. Dia bercerita mengenai belum bisa urus KRS karena bla bla bla. Dia sibuk mengurus surat penelitiannya bla bla bla. Dia relawan panitia kelas inspirasi di daerah lain. Saya mencoba jadi pendengar yang baik saat dia bercerita. Saya sesekali menimpalinya dengan pertanyaan yang selama ini mengganjal di pikiranku. Setelah mendengar penjelasannya, Saya pun tenang.

Dari jendela dekat kursi Atf, Saya melihat kawan melintas. Kawan yang sempat dititipi flashdisk oleh teman sekelasku. Saya memintanya untuk memberikan flashdisk itu. Namun, dia mengatakan bahwa akan balik lagi setelah pergi ke parkiran. Saya mengiyakan.
Saya sesekali menengok ke jendela sembari mendengar cerita Atf. Teman Saya tak kunjung muncul. Hingga akhirnya sudah masuk waktu shalat dhuhur untuk wilayah setempat. Saya dan Atf beranjak untuk melaksanakan kewajiban.

Saat berjalan menuju mushollah, Saya bertemu teman lainnya. Saya menanyakan keberadaan temanku yang menyimpan flash disk. Dia memberitahukan bahwa melihatnya di sekitaran fakultas lantai 4. Saya yang orangnya kurang konsisten tetiba bimbang. Mau ambil flashdisk dulu atau shalat dulu. Untungnya Atf bisa membantu memberikan pilihan. Jadi, kami shalat dulu. Saya membawanya ke mushollah di sekitar ruang perkuliahanku. Sekalian menunjukkan ruang kuliahku kepadanya.

Setelah selesai. Saya mengajak Atf ke bagian akademik fakultas untuk mengambil flashdisk Saya. Saat di perjalanan, Atf menoleh ke salah satu lab dan bertatap mata dengan kawannya. Atf lalu menyapa kawannya dan Saya tetap berjalan untuk bertemu dengan teman yang menyimpan flashdisk titipan untuk Saya.

Flashdisk sudah di tanganku. Atf masih sibuk bercengkrama dengan kawannya. Ada teman Saya menyapa dan menanyakan keberadaan jas nya padaku. Ternyata, Saya belum mengembalikan jas miliknya yang kupinjam saat akan ujian meja.

Atf kemudian muncul dengan kawannya. Lalu Saya pamit dan pergi bersama Atf. Karena penasaran, Saya bertanya sama Atf mengenai kawannya. Atf mengaku bahwa orang itu adalah teman sekelasnya waktu SMA. Saya terperanjat karena ternyata orang itu adalah adik kelasku juga.

Saat kembali ke rektorat, waktu istirahat juga sudah berakhir. Kami mengurus keperluan masing-masing. Atf pamit meninggalkanku karena urusannya lebih dahulu selesai.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 saat urusanku kelar. Masih lama dari waktu janjian dengan Tanteku. Saya kemudian berkeliling fakultas dan berharap bisa berjumpa dengan orang yang kukenal dan bisa kuajak ngobrol. Hasilnya nihil.
Saya lalu ke tempat nongkrong waktu masih jaman awal kuliah. Tempat nongkrong yang menjadi saksi bisu kesibukan Saya saat masih menulis laporan praktikum. Saya bertemu dengan dua temanku disana. Kami ngobrol lama. Beberapa teman juga menghampiri Kami. Saat ada teman yang datang, ada pula teman yang pergi. Siklus yang silih berganti.

Jam menunjukkan pukul 14.30, pikiran Saya dihantui bisikan untuk menghubungi Tante. Saya lalu menelpon Tante Saya. Saya menanyakan pada beliau, apakah Saya sudah bisa mengambil uang pembayaran SPP yang dijanjikannya. Namun, beliau masih belum di Makassar dan mengatakan bahwa sekalian besok saja. Toch, bank juga sudah tutup saat beliau akan tiba di kampus. Hati Saya serasa hancur berkeping-keping. Saya kecewa. Satu-satunya alasan Saya ke kampus ternyata tertunda.

Terbersit di pikiran Saya untuk mengikuti kegiatan dengan agenda ‘dua kawan dua petualangan’, berhubung lokasi kedai buku jenny sangat dekat dengan kampusku. Saya lalu ke kedai buku jenny.

Sesampai di sana, band pengisi acara sedang cek sound. Acara belum dimulai. Saya menyapa beberapa orang yang kukenal dan membantu menggunting stiker. Saya sempat malu saat berdiskusi dengan Kak Dedi (pemateri kelas menulis KBJ). Saya menyebut bahwa ada temanku tertarik membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer (semoga penulisan namanya benar) setelah membaca novel berjudul ‘pulang’ yang kukira merupakan karya Pram. Saya sempat mendengar tawa tertahan dari cewek yang duduk menyimak diskusi Saya dengan Kak Dedi. Dari situ Saya menyimpulkan bahwa Pram bukan penulis novel ‘pulang’. Untungnya Saya tidak kenal dengan cewek itu, jadi tak perlu malu berlebihan.

Saat acara dimulai, Saya memilih duduk paling depan. Duduk lesehan bersama peserta lainnya di teras kedai buku jenny.

Ada dua kawan yang menjadi pembicara kali ini. Ada seorang pria gendut, mengenakan kaos putih bertuliskan ‘lontara project’, dan di kepalanya ada topi bundar berwarna cokelat muda. Kawan lainnya adalah seorang wanita berkacamata, mengenakan rok, dan dia masih sibuk memindahkan foto-foto dari laptopnya saat acara dimulai.

Dua kawan itu bercerita mengenai perjalanan mereka bersama 13 teman lainnya ke Belanda. Mereka dalam misi lontara project melihat langsung naskah lontara di negeri orang. Saya menyimak setiap cerita mereka. Sesekali ditambahkan beberapa komentar oleh seorang wanita berambut panjang yang duduk di dekat mereka. Saya lupa namanya siapa. Saya cuma ingat bahwa wanita itu juga sangat paham mengenai lontara project.

Saat diskusi berlangsung, tetiba ada kawanan orang datang. Cukup mengalihkan perhatian karena keterlambatannya membuat kegaduhan. Saya menoleh ke belakang dan melihat seorang temanku di dunia jingga ada diantara mereka. Saya cukup terkejut bisa bertemu dengannya di kedai buku jenny. Selama ini Saya hanya mengobrol dengannya di dunia jingga melalui dunia maya.

Satu moment yang kurang adalah Saya lupa mendokumentasikan pembicaraan dua kawan saat ke Belanda melalui ‘voice recorder’ atau ‘video recorder’ di ponsel. Padahal ini bisa jadi bahan untuk membuat feature yang sementara kubuat. Ingatan bisa saja hilang kapan saja. Bukti otentik seperti rekaman suara atau video bisa jadi bahan untuk mengabadikan cerita mengenai perjalanan dua kawan. Saya masih menyesal karena tak merekam pembahasan dua kawan itu. Sampai saat Saya menuliskan ini, hanya sebagian kecil masih kuingat.

Sebelum dilanjutkan ke sesi peluncuran buku dua kawan itu, ada seorang yang dipanggil uncle dipersilahkan menyanyi. Kesan pertama saat melihatnya adalah orang yang dikenal sebagai uncle itu tergolong tampan menurutku. Tapi, anggapan itu luntur saat menyaksikan ekspresinya bernyanyi. Sepertinya dia menghayati saat menyanyi, sampai sampai harus lebih banyak merem daripada melek matanya. Tampakan visual tak senikmat dengan audio yang terdengar. Saya memilih menikmati suaranya tanpa melihat langsung wajahnya. Lebih nyaman seperti itu.

Sesi kedua dilanjutkan. Dua kawan kini bercerita hal yang berbeda. Mereka membahas mengenai novelnya yang dilaunching hari ini. Saya tak ingat apa judul novelnya. Mereka bercerita mengenai awal mula munculnya ide tentang novel detektif karya mereka. Kak Dedi berkomentar. Menurut kak Dedi, novelnya ringan dan menghibur saat dibaca (semoga ingatan Saya benar). Saya tertarik ingin membeli novel mereka, namun dompet lagi tak bersahabat. Apalagi kalau mereka menjanjikan kepada lima pembeli pertama untuk dibuatkan karakter dalam novel mereka berikutnya.

Sebelum sesi tanya jawab dilanjutkan, band pengisi acara tampil. Saya melihat sosok cewek yang tadi menahan tawanya. Ternyata cewek itu adalah vokalis band pengisi acara. Saya hanya menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan secara audio. Mataku tertuju pada layar ponsel yang berisi daftar nilai mata kuliahku. Alhamdulillah, Saya mendapat nilai memuaskan. Hal itu takkan pernah kucapai bila tanpa bantuan ALLAH SWT selama masa perkuliahanku.

Saat band pengisi acara selesai tampil. Sesi tanya jawab dibuka. Kak Dedi bertanya. Dua kawan menjawab. Lalu, acara hari ditutup karena sudah masuk waktu magrib wilayah setempat.

Saat ingin pipis di WC, ternyata airnya sudah habis. Jadi, Saya buru-buru pulang dengan menahan pipis. Berharap bisa singgah sebentar di mesjid pinggir jalan sekalian melaksanakam kewajiban. Selama di pete-pete, ada pasangan suami istri berusia senja yang tetap mengobrol akrab meskipun umur mereka tak muda lagi. Tetiba terlintas di benak, sebuah harapan. Semoga kelak, Saya dan suami bisa tetap mengobrol akrab meskipun berusia seperti mereka. Saya bahkan sejenak lupa keadaanku yang sementara menahan pipis.

Saat tiba di mesjid terdekat. Saya pipis. Saya wudhu. Saya melaksanakan kewajiban.

Setelah itu, Saya lalu naik pete-pete yang akan melintas di jalan diponegoro. Kesan pertama saat naik di pete-pete adalah lampu berwarna biru yang menyinari kendaraan ini sangat mengganggu penglihatanku. Saya hampir naik pitam. Seorang bocah perempuan berusia kira-kira 7 tahun, berambut panjang, ketawa setiap saat, dengan lesung pipi menghiasi tawanya, mampu mengalihkan perhatianku. Sepanjang perjalanan dia tertawa. Saya sempat menanyakan kepada diri bilamana Saya terakhir kali tertawa se-riang bocah itu.

Ketika tak ada lagi penumpang selain Saya, supir pete-pete malah mengeluarkan naluri balapnya. Dia mencoba menyalip pete-pete lain. Sekilas, ada senyum merekah pada wajah supir saat dia berhasil mengalahkan pete-pete lain.

Setiba di jalan diponegoro. Saya melanjutkan dengan berjalan kaki. Hari sudah malam, langit yang kupandang kini sudah gelap tak berbintang. Saat memandang langit, Saya teringat dengan seorang teman yang hobinya menulis tentang langit di blognya. Kisah tentang langit yang dilihatnya, akan ditulisnya secara rinci di blog.

Lalu terlintas di pikiran Saya untuk menyampaikan kepadanya sebuah ide. Ide untuk membukukan tulisan tentang langit di blognya. Kisah tentang langit selalu menarik untuk diceritakan. Apalagi kedai buku jenny sudah merambah dunia penerbitan buku indie. Peluncuran novel dua kawan adalah peluncuran novel pertama yang diterbitkan oleh kedai buku jenny. Saya ingin menyampaikan ide melalui pesan whatsapp, tapi Saya teringat bahwa ponsel sudah mati total. Saya harus menunda menyampaikannya.

Kisah Saya hari ini berakhir saat tiba di rumah. Saya melihat bayang ibu Saya di jalan, tepat depan pagar rumah. Saat kutanyakan dia akan kemana. Beliau menjawab, “mau ka’ pergi cariqo nak”.

#Tulisan ini harusnya diposting pada 22 Januari 2014

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply