Langit berbicara

Dear Langit,
Bolehkah kamu membujuk agar sang surya menampakkan dirinya? Teriknya kubutuhkan untuk mengeringkan jas apotekerku. Aku sedang tak cukup kuat untuk mengejar sang surya. Jadi, bisakah kamu beri kesempatan untuk sang surya datang sendiri padaku?

Di sela waktu pada pagi menjelang siang ini, kusesap teh tawar dalam gelas jumbo. Kupandangi dirimu dari balik jendela. Tampaknya kamu lagi muram. Tak ada semburat biru di wajahmu. Tak ada awan putih mendampingimu. Apakah kamu butuh teman bicara? Ataukah kamu menawarkan diri untuk jadi teman bicara ku?
“Ayo kita berbicara,” kataku dalam hati sambil menyesap teh ke kerongkonganku.
Dan kamu tetiba mengirim angin untuk menutup satu kuping jendela. Tak cukup dengan itu, kau pun menjatuhkan bulir hujan ke tanah bumi. Hanya semenit. Apakah itu pertanda, kau tak mau bicara denganku?

—***—

Langit, sengaja kuberi jeda pada penulisan surat ini. Tak selesai hanya dengan sekali tulis. Setelah menulis dua atau tiga paragraf, lalu kupencet tombol ‘publish’ di blog. Kudiamkan beberapa jam sambil menikmati alur sikapmu. Menulis kembali saat ada (lagi) ruang bingung yang tercipta di benakku.
Sampai kapan akan kulakukan hal ini? Sampai aku muak dengan bejibun pertanyaan yang belum tentu kamu jawab. Serupa dialog, tapi tak nyata.

Apakah kamu turut andil dalam cuaca hari ini, Langit?
Sesaat cerah, selang beberapa menit, lalu gerimis. Tak banyak waktu yang tersedia bagi gerimis untuk mengecup bumi. Sesaat kemudian, lalu cerah. Sesaat cerah, selang beberapa menit, lalu gerimis. Ababil. Istilah masa kini yang menggambarkan sikapmu hari ini. Siklus yang berulang hingga sekarang.

Langit, bolehkah aku mengungkapkan satu hal?
Aku iri padamu. Aku sangat iri padamu. Bebas berkelana seperti tak ada poros yang harus kau lintasi.
Dinamis.
Lapang.
Aku sangat suka saat harus mendongak untuk menatapmu. Kujamah keindahanmu dengan bantuan jendela sebagai sekat antara kita. Pihak ketiga selalu menambah rasa manis suatu hubungan.

Langit, sebentar lagi senja muncul. Bisakah kamu berkonspirasi dengannya?
Kalau bisa, tolong geser rumah tetanggaku agak jauh ke arah utara? Meski ada sekat tanah kosong antara kami, tetap saja tak mampu membuatku nyaman jadi diri sendiri. Aku tak bisa menjadi aku yang biasanya.

—***—

Aku, suatu hari di bulan januari tahun lalu, pernah mencetuskan mimpi. Gegara menonton suatu adegan di TV series ‘Pretty Little Liars’. Aku ingin punya jendela yang ada sofa/kasur dekat jendela. Mirip seperti yang ada di ‘Pretty Little Liars’. Istilah kerennya adalah ‘window seat’.

Harapku sederhana, aku ingin memandang langit sepuasku. Kapan saja. Sebelum tidur, saat bangun, saat membaca buku, arrgghhh visualiasasi-nya muncul lagi di benakku.

Entah bagaimana wujudnya bila di kamar gelap ada ‘window seat’. Sepertinya takkan bisa cocok, aku lebih menikmati empuknya kasur dan kedamaian jiwa bila berada di kamar gelap. Tak ada hasrat untuk menikmati langit.

Langit, terima kasih karena seharian ini telah berbicara dengan caramu. Kapan-kapan akan kutulis surat lagi buatmu (kalau ingat).

Salam hangat dari balik jendela,
Nurfaisyah

#Harike5 #30HariMenulisSuratCinta

Nb: kenapa suratku, makin hari, makin absurd (doh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *