Press "Enter" to skip to content

Madre, sekeping karya Dee

Nurfaisyah 0

Mengenal secara utuh. Caraku menikmati karya. Ketika penasaran dengan seniman, akan kucari karya-karyanya hingga keseluruhan. Biasanya kulakukan khusus untuk penyanyi dan penulis. Jika penyanyi, kuunduh album-album ciptaannya. Semua. Lalu, kudengarkan hingga seluruh deretan lagu menjadi akrab dengan telinga.

Begitupun dengan penulis. Kan kulahap semua bukunya, meski harus pinjam. Kebanyakan meminjam memang. Sebagai gantinya, akan kuperlakukan layaknya milik sendiri. Ketika selesai, segera dikembalikan. Kecuali, Madre, pencarian terakhirku tuk karya Dee. Terima kasih kepada Kak Ardhe’, secara sukarela meminjamkan dan bersedia bila bukunya lebih lama bersamaku.

menunggu-layang-layang
Madre-Dee-Menunggu Layang Layang

Menunggu layang-layang, satu cerita dalam Madre, sangat suka kubaca ulang, berkali-kali, apalagi sebelum tidur, setelah lelah melalui hari, yang semoga penuh manfaat bagi sesama. Bertema kisah percintaan dengan balutan unsur persahabatan, dikenal dengan istilah friendzone.

Perasaan yang tumbuh seiring berjalannya waktu, karena terbiasa, tanpa diperintah, dan sangat menyakitkan andaikata memilih tuk mendiamkannya saja. Cara Dee bertutur melalui tulisan pada Menunggu Layang-Layang, sungguh berhasil bikin aku seakan-akan berpartisipasi menjadi tokoh dalam cerita. Ambil bagian. Turut andil. Kalau baca ini, bagusnya kalau sambil dengar lagu All I Ask punya Adele.

Madre, satu cerita dalam buku, mengangkat rumah roti kuno sebagai latar tempat utama. Inang dari sebuah roti adalah makna entitasnya. Perbedaan karakter dua insan manusia dalam memupuk rasa, cara Dee membangun alur kisah. Memelihara warisan, juga merupakan pesan penting bagi kita yang baru saja ditinggalkan oleh keluarga tersayang. Karena bisa jadi peninggalan itu sangat berharga baginya dan hanya kita yang dapat dipercaya tuk mampu menjaga.

Madre-Dee-Have You EveR?
Madre-Dee-Have You Ever?

Have you Ever?, satu cerita dalam Madre, adalah sebuah pertanyaan yang terkesan selalu mencari pembelaan. Sebuah perjalanan jauh meninggalkan zona nyaman hanya tuk mencari jawab atas tanya. Rasa penasaran membawaku betah menelusuri tiap narasi, dialog demi dialog, aksara, huruf demi huruf, hingga mengantar pada sebuah akhir mengagetkan. Tak pernah terpikir sebelumnya. Tak Tertebak. Membuatku makin kagum pada ramuan kata Dee.

Barangkali cinta, entah puisi atau prosa. Letaknya paling akhir, sebelum Menunggu Layang-Layang, pas sekali sebagai penutup dari kumpulan cerita bersampul jingga bermotif ilustrasi arsitektur bangunan Madre. Masih banyak puisi dan cerita lainnya. Deretan ulasan singkat di tulisan ini hanya memuat favoritku di Madre.

madre
madre

Akhir perjalanan menamatkan sebuah buku, mengantarku pada rasa ingin tahu lebih besar, karya Dee selanjutnya, bakal seperti apa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *