Press "Enter" to skip to content

mengenal nomadic heart

Nurfaisyah 6

Membaca karya tulis orang adalah cara lain untuk mengenal kepribadiannya. Kebiasaannya. Cara berpikirnya. Prinsip hidupnya. Apa yang disukainya. Apa yang tak disukainya. Pendapatnya mengenai suatu hal.

Seperti saat pertama kali kutemukan ‘nomadic heart’ di meja salah satu teman kerjaku. Hanya dengan membaca paragraf pertama ‘nomadic heart’, terpikir olehku, bahwasanya saya sependapat dengan penulisnya.

Saya tidak menyangka bisa menemukan orang yang se-frekuensi denganku, meskipun hanya melalui deretan aksara.

Saya berinisiatif meminjam ‘nomadic heart’ dari pemiliknya. Akhir pekan, kesempatanku untuk menikmati kebersamaan dengan buku itu. Saya menjemputnya pada jumat, sehari sebelum akhir pekan. Barter dengan meminjamkan ‘journey 3’ku kepada pemiliknya, sebagai apresiasi terima kasih.

Nomadic heart, buku setebal 171 halaman, ini menceritakan pengalaman Penulis melalukan perjalanan. Pada beberapa bab lainnya, Ia bercerita tentang sosok yang ditemuinya. Pemberi makna kehidupan baginya.

Saya sempat mengumpat ketika membaca bab berjudul ‘Aku, Monika, dan Kevin Rawley’. Lebih tepatnya merutuki Kevin, pria patah hati karena wanita pujaannya, yang dicintainya dalam diam, menikah dengan orang lain.

Sesulit itukah mengungkapkan cinta? Tidakkah Ia beruntung karena terlahir sebagai pria, sehingga bisa dengan leluasa mengungkapkan perasaan kepada wanita yang dicintainya?

Berbeda dengan kami, para wanita. Merupakan hal tabu ketika kami yang agresif, bahkan hingga mengungkap cinta kepada pria. Hal itu dianggap sebagai sikap murahan.

Ya sudahlah. Meski ada arsitek cinta, yang sudah mengatur siapa berjodoh dengan siapa. Namun, harus tetap diusahakan, iya kan?

Sekalipun emosi jiwa membatin, saya lanjut melahap lembar demi lembar hingga menemui bab yang bercerita tentang wanita yang ditemuinya dalam perjalanan di Thailand. Hingga akhir bab, saya masih bertanya-tanya, bagaimana kabar wanita itu sekarang?

Cara Penulis mendeskripsikannya masih kurang detail, sehingga tak mudah bagiku menerka, apa sih yang disukai Penulis dari wanita itu? Kenapa Penulis bisa jatuh hati kepada wanita itu?

Dialog, yang ditampilkan dalam buku, sesekali membuatku bingung, sebenarnya siapa yang sedang berbicara dengan siapa? Cukup membuatku tak nyaman membaca dan ingin berhenti saja.

Godaan itu kutampik dengan dalih, begitulah proses mengenali manusia. Terkadang, tak sesuai ekspektasi. Tak ada manusia sempurna. Hal itulah yang membuat kita mengenal ‘kompromi’, ‘memahami’, serta ‘toleransi’.

Saya memilih untuk tetap bertahan, meski dihadapkan pada pilihan pergi (berhenti membaca) atau tetap bertahan (melanjutkan membaca). Pilihanku tepat, saya memperoleh wawasan dari tulisan pada bab-bab berikutnya. Bukan hanya satu atau dua, tapi banyak.

Apalagi wawasan mengenai komunikasi interpersonal. Keberagaman pribadi manusia yang membuat saya seakan terlalu picik, untuk menganggap bahwa orang yang ada di sekitarku, harus menjadi seperti sosok yang kuharapkan.

Kini, saya menyadari bahwa hubungan antar manusia yang hakiki adalah ketika saya juga bisa menerima kekurangan dan keunikan orang lain, merupakan bagian dari paket komplit kepribadian, bawaan sejak lahir.

Bab terakhir, bagian termanis menurutku. Betapa Penulis memahami perbedaan prinsip. Penulis sadar bahwa setiap manusia berhak memilih jalan hidupnya untuk bahagia. Penulis sudah memilih jalannya.

Pilihan itu membuat Penulis bisa bertemu orang – orang yang se-frekuensi dengannya. Menginspirasinya.

Hal itu nampak jelas pada setiap lembar ‘nomadic heart’. Buku bergenre perjalanan (travelogue),  yang mengiringiku melakukan perjalanan hati. Perjalanan menemukan keping makna kehidupan melalui aksara Ariy, Penulis ‘nomadic heart’.

Semoga saya bisa mengenal paham – paham keyakinan Ariy (@ariysoc) melalui ‘Travelove’. Ariy tahu, bagaimana cara membuat pembacanya, termasuk saya, untuk terus penasaran dan ingin membaca karya Ariy lainnya.

 

***terima kasih, Kamu. Telah meminjamkanku nomadic heart. Karenamu, saya bisa belajar (lagi) makna kehidupan. Karenamu, saya akhirnya bisa menulis lebih dari 500 kata. Karenamu, saya bisa bercerita lebih banyak.

 

Makassar, 1 november 2014

  1. Ismud Ismud

    saya sangat “iri” caramu melihat, menikmati, dan memperlakukan buku2 yang ada di hadapanmu.
    membaca dan menulis yang “baik” genetik atau faktor kebiasaan saja??

    saya masih bingung, kapan tulisan itu layak tuk di baca?

    • Nurfaisyah Nurfaisyah

      Terima kasih.
      Itu masalah kebiasaan.
      Tulisan menjadi layak dibaca ketika tombol “publish” dipencet.

  2. Ismud Ismud

    haaii… saya tiba-tiba rindu dengan novel itu.
    optsss…
    semenjak saya di sini, belum ada novel yang saya khatamkan.
    ada apa gerangan??
    bagi semangatmu dong…

    • Nurfaisyah Nurfaisyah

      Hai, Ismud. Maaf baru bisa balas komentar.
      Sore tadi, saya sengaja nongkrong di salah satu rumah kopi bernama SofiKopi demi membaca Intelegensia Embun Pagi karya Dee. Lokasinya cukup jauh dari rumahku. SofiKopi punya novel yang pengen sekali kubaca dan asyik dijadikan tempat nongkrong yang berasa nyamannya rumah. Sayangnya, bacaanku terhenti hingga keping 49 karena langit sudah menyiratkan tanda-tanda senja.
      Ayo deh, Ismud membaca lagi. Biarkan pikiran liarmu membawa pada imajinasi tanpa batas.

  3. 2017 dan Maret.

    Saya boleh nanya, pernah kau berteriak setiap hal2 yang kurang menyenangkan kau dapati?. Saya berniat, ingin teriak di pantai dan baru saya tahu di tempat perantauanku hanya ada gunung jadi saya urungkan. Tugasku makin banyak dan tesisku butuh perhatian lebih.

    Btw, Cha punya teman yang bisa desain blog? (Kalau bisa jasanya gratis atau berbayar sesuai harga mahasiswa rantaulah)

    • Maaf baru bisa balas, Ismud.
      Saya tak tahu orang yang bisa desain blog. Maaf ya belum bisa bantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *