Mengulik Lebih Dalam, Novel Karya Ika Natassa

Mengulik Lebih Dalam, Novel Karya Ika Natassa

By : -

Mengulik Lebih Dalam, Novel Karya Ika Natassa

Nama Ika Natassa mulai kudengar saat perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2016 bertema Baca!. Ia merilis novelnya “The Architecture of Love” di kegiatan berskala international itu. Sayangnya, saya tak sempat hadir karena berkewajiban moril bantu-bantu buka booth komunitas Sobat LemINA pada Pesta Komunitas Makassar (2016).

Uci, teman se-komunitas di Sobat LemINA memamerkan novelnya bertanda tangan Ika Natassa. Critical eleven miliknya berhasil kupinjam. Maklum saja, rasa penasaran menggerogotiku. Pertanyaan “Seperti apa cara Ika Natassa meramu kata hingga menjadi novel?”, “Bagaimana alur pikiran Ika Natassa dalam membawa pikiran pembaca masuk ke dalam dunia khayal, saat membaca buku?”

Critical Eleven VS A Very Yuppi Wedding

Critical Eleven VS A Very Yuppi Wedding

Hanya butuh jeda dua pekan, saya mampu menyelesaikan bacaan dua karyanya, Critical Eleven dan A Very Yuppi Wedding. Keduanya modal pinjam dari teman. Entah konspirasi apa lagi yang dibawa oleh semesta. Namun, saya tetap berbaik sangka. Kedua novelnya berhasil menjadi pengalih perhatian yang sangat ampuh.

Umur rilis Critical Eleven jauh lebih muda dibandingkan A Very Yuppi Wedding. Beda delapan tahun. Tapi, meski beda sekian lama, masih ada kesamaan diantara keduanya. Berikut adalah beberapa hal mirip diantara keduanya, yakni:

  1.  Tokoh wanita memiliki sahabat tuk berbagi masalah hidup. Tanya Risjad di Critical Eleven punya Tara dan Agnes. Sedangkan, Andrea Siregar di A Very Yuppi Wedding bersahabat dengan Tania.
  2. Tanya Risjad di Critical Eleven dan Andrea Siregar di A Very Yuppi wedding sama-sama merupakan seorang wanita karir dengan penampilan stylish. Ika Natassa mendeskripsikannya dengan sangat menarik sehingga saya bisa membayangkan betapa kerennya penampilan kedua tokoh perempuan di masing-masing novel.
  3. Adegan saat pria mengungkapkan kalimat menjengkelkan ke pasangannya. Hal yang berhasil bikin hati pembaca, seperti saya, seperti tersayat-sayat. Pada A Very Yuppi Wedding, Radit mengirimi Andrea pesan teks bertuliskan “… The wedding is on, Dre, although I’m marrying a women I can never trust again.” Nah, pada Critical Eleven, ketika Tania mengenang saat Aldebaran Risjad berkata, “Mungkin kalau dulu kamu nggak terlalu sibuk, mungkin Aidan masih…” di dapur.
  4. Setelah kejadian kata-kata menohok para tokoh pria, selalu berhasil bikin para wanitanya melalui hidup yang hampa. Silahkan kamu temukan sendiri cuplikan mana yang kumaksud. Tak sanggup kuceritakan. Karena pada saat membacanya, seakan-akan saya juga turut merasakan betapa menyakitkan menjalaninya. Namun, Ika Natassa cukup cerdas dalam menempatkan kepingan menenangkan. Pada chapter yang pas, ia berhasil menaruh adegan penangkis yang memberi kesembuhan batin para wanita. Sekali lagi, padaku juga, selaku pembaca.
  5. Ika Natassa jago membuat tokohnya khas, unik, dan bikin terngiang-ngiang. Pada A Very Yuppi Wedding, saya masih saja berandai-andai ingin punya kehidupan seperti Andrea, a shopaholic yang selalu punya uang dalam memuaskan hobi belanjanya. Sedangkan di Critical Eleven, saya selalu membayangkan ada pria, seperti Aldebaran Risjad, yang hobinya bikinin kopi buat istrinya, Tanya. Saya juga mau dibuatkan sesuatu secara rutin, hal sederhana saja. Asalkan rutin, pasti bisa jadi pengisi daya romantisme.
  6. Keduanya mengusung tema cinta dengan kisah hidup pasangan dewasa. Untuk anak di bawah umur, sebaiknya mencari referensi bacaan lain saja.
  7. Akhir kisah bahagia di kedua novel, sama-sama menegaskan bahwa tak selamanya perjalanan hidup berpasangan berjalan mulus. Meski terkadang ada kerikil sebagai penghambat, namun tetap bertahan dengan pasangan yang telah dipilih adalah cara terbaik tuk berbahagia.

Demikian ulasan mengenai karya Ika Natassa. Setelah menyelesaikan A Very Yuppi Wedding dan Critical Eleven, saya jadi penasaran ingin membaca novel lainnya. Mungkin Antologi Rasa atau A Architecture of Love. Kuharap bisa segera membacanya.

Ehm, saya jadi teringat Dee. tinggal satu karyanya belum kubaca. Tersisa Madre. Mana Cue yah? biasanya ia yang meminjamkan buku Dee tuk kubaca.

Pada bacaan yang tuntas, terbuka jalan tuk memasuki cerita baru dalam buku berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *