Press "Enter" to skip to content

Moment Tak Bisa Diulang

Nurfaisyah 0

Makassar sore hari, begitu gerah, padahal saya sudah menikmati es krim sebelum nongkrong bareng Kak Dede di pojok Frozzy cafe. Saya pesan jus sirsak, kak Dede jus semangka, dan batagor sebagai cemilan.

Nongkrong sore
Nongkrong sore. Foto : Kak Dede

Obrolan tiba pada pembahasan tentang kemampuan Ifa dalam memilih sudut pandang motret sudah unik dan mumpuni. Saya menimpali penjelasan, seperlunya.

“Satu hal yang tak bisa diatur dalam fotografi adalah moment,” Kata Kak Dede.

“Bagaimana itu moment?” Tanyaku.

Kak Dede memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada kursi. Saya mendekat, supaya bisa mendengar lebih jelas.

“Moment itu sesuatu yang terjadi begitu saja dan tak bisa diulang kembali,” Jawabnya.

“Contohnya sunset, sunrise, atau kejadian seorang anak jatuh. Anak itu tak mungkin disuruh untuk jatuh kembali,” Tambahnya.

Beberapa menit kemudian, Kak Riri menghampiri.

Saya berasa separuh amnesia, tak mampu mengingat semua pembahasan yang telah kami lalui ke Kak Riri. Untungnya, Kak Dede bantu menjelaskan.

Dari arah belakang, nenek berjilbab lusuh, wajah kusam, dan banyak keriput di bagian pipi mendekat ke meja kami. Ia membawa beberapa buku tuntunan agama, salah satunya buku petunjuk shalat bersampul ungu. Ekspresi Kak Dede dan Kak Riri berubah.

Kak Dede merogoh kantung celana, memilih-milih lembaran uang, melipatnya menjadi lembaran kecil, lalu menyalami nenek sambil tertunduk. Sang Nenek menyalami balik dengan kedua tangannya. Setelah mengambil uang di dompet kecil, Kak Riri juga menyalami nenek itu.

Si Nenek berbisik lirih, entah berterima kasih atau berdoa atas rezeki yang diterimanya dari Tuhan, melalui manusia di hadapannya sebagai perantara.

Saya mulai mencocokkan penjelasan moment dengan kejadian beberapa detik lalu. Contoh nyata akan moment terjadi di hadapanku. Saya tak dapat meminta pada mereka tuk mengulang kembali dengan ekspresi sama dengan adegan tadi.

“Aha, sekarang saya mengerti moment itu seperti apa,” Ucap saya.

Mereka terheran melihat ekspresi saya dalam membuat kesimpulan kejadian. Kak Dede bantu menjelaskan pada Kak Riri alasan di balik sikap saya.

“Unik ini memang Ica,” Kata Kak Riri.

Kami tertawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *