Karangan Bebas

Nothing to Lose : Memaknai Ketulusan

12 Desember 2017

Ifa, teman relawan di Sobat LemINA, berbagi link lomba mengenai Anugerah Pewarta Astra 60 tahun, melalui WhatsApp, (17/11) lalu. Info detail mengenai lomba bertajuk “Perjalanan Penuh Inspirasi” ini, bisa diperoleh di http://anugerahpewartaastra.satu-indonesia.com. Lomba dengan kaliber peserta se-Indonesia yang sungguh mencengangkan. Saya pun menyarankan ke Ifa bahwa ketika mengikutinya, perlu riset lebih lanjut dan menyertakan Nothing to Lose dalam prosesnya. Ifa pun setuju.

Sekilas penyebutan “to Lose” menyerupai “tulus”, bukan penyanyi Tulus, idola Ifa, ya. Tapi, tulus yang bermakna sebagai berikut.

tu.lus
a sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas: orang lain belum tentu berhati — kepada kita; ia menyumbangkan tenaga dan hartanya dengan — ikhlas
Sumber : https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/tulus

Saya hampir tak ingat. Hingga suatu hari, saya memutuskan berpartisipasi. Saya menyampaikan keinginan tuk ikutan lomba ke Ifa, itupun gara-gara melihat postingan di grup Facebook dan tawaran menggiurkan di baliknya. Ia kembali mengingatkan tentang Nothing to Lose.

Baca juga : Astra Jadi Bagian Hidupku, Bukan Suatu Kebetulan

Sebelum Pembahasan Nothing To Lose

Ifa berbagi link website juara kompetisi blog yang diikutinya, (14/11) lalu, tentunya melalui obrolan WhatsApp. Saya turut membaca karena penasaran. Sekalian menganalisa kemungkinan alasan para juri bisa memilihnya sebagai pemenang. Menganalisa adalah kemampuan yang selalu saya syukuri setelah berhenti kerja. Hal itulah yang dilatih oleh mantan atasan saya hingga semua karyawannya terbiasa menganalisa. Hingga terkadang, saya tanpa sadar menganalisa hal-hal sepele.

Kembali tentang menganalisa tulisan juara kompetisi blog. Saya paparkanlah ke Ifa. Hasilnya menjadi acuan diskusi kami agar menjadi bahan pembelajaran tuk ikutan kompetisi blog berikutnya. Kompetisi blog adalah salah satu media kami tuk mewujudkan impian.

Sudah kita bersikap Nothing to Lose ?
Sumber foto : www.lovethispic.com

Setelah Pembahasan Nothing To Lose

Pada kelas Nulis Blog Sobat (program kegiatan bagi relawan Sobat LemINA tuk mengasah kemampuan menulis dan nge-blog) diadakan lomba review Film Coco, sebuah film animasi yang konon kabarnya berhasil bikin beberapa penonton berlinang air mata. Saya belum nonton, jadi tak bisa menjelaskan lebih detail mengenai film tersebut. Hadiah lombanya antara lain botol minum dan buku agenda dari Kak Riri, koordinator Sobat LemINA.

Baca Juga : Sobat LemINA mengadakan Volunteer Camp, Saya Absen

Nah, urutan tulisan terbaik berdasarkan penilaian juri, yakni:

  1. Ifa : http://www.andiarifayani.com/coco-animasi-tentang-kematian/
  2. Ainun : https://mayystory.wordpress.com/2017/12/09/review-film-coco/
  3. Ichal : https://faichal.wordpress.com/2017/12/09/belajar-tradisi-day-of-the-dead-pada-film-coco/
  4. Eka : https://ekaharty.wordpress.com/2017/12/09/film-coco-bertemu-keluarga-di-dunia-kematian/
  5. Yusniar : https://yusiwords.wordpress.com/2017/12/09/review-film-animasi-coco/

Sempat terjadi kesalahpahaman. Ifa merupakan fasilitator pada kelas Nulis Blog Sobat. Namun, ditetapkan sebagai pemenang dengan tulisan terbaik. Lagian, keputusan juri, yang sudah diumumkan, tidak dapat diganggu gugat. Jadi, masukan tuk kegiatan lomba Nulis Blog Sobat berikutnya adalah syarat dan ketentuan lomba yang lebih detail.

Ketika mengetahui penjelasan Ifa tentang perjuangan menulis postingan review Film Coco menggunakan ponsel pada tengah malam agar turut berpartisipasi, sudah cukup bagi saya tuk memujinya karena berhasil menyertakan Nothing to Lose. Saya yakin, pasti dalam benak Ifa tak tebersit keinginan tuk jadi pemenang, apalagi saat menyelesaikan tulisannya.

Kesimpulan Mengenai Nothing to Lose

Nah, sekarang adalah bagian paling tak mudah. Saya akan menutup postingan ini dengan kalimat apa? Karena sepanjang tulisan, saya ingin bercerita tentang Nothing to Lose, tapi malah pada akhirnya saya lebih banyak menceritakan Ifa. Oh iya, saya sudah minta izin ke Ifa tuk menayangkan postingan ini. Ia membolehkan.

Memaknai ketulusan memang tak semudah diucapkan. Ketika mampu menyertakan Nothing to Lose pada sikap dan tindakan, berarti kita telah berbuat tulus.

Sekian dan Terima kasih.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply