kisah kasih puteri “pembatas buku”

“Jangan jauhkan aku dari kekasihku. Bukan. Sahabatku, lebih tepatnya. Kami tak pernah berikrar menjadi sepasang kekasih. Kami selalu bersama, namun selalu berusaha dipisahkan” ucap puteri “pembatas buku”.

Pangeran “buku” selalu lebih tampan dan menarik perhatian. Salah satu cara asyik bergumul dengan pangeran “buku” adalah menjauhkannya dari puteri “pembatas buku”.

Membiarkan puteri “pembatas buku” terkulai lemah, tak berdaya, terisak lirih menjauh dari lembar-lembar kehidupan pangeran “buku”. Lebih tepatnya sengaja dijauhkan.

Puteri “pembatas buku” telah menyimpan kasih pada pangeran “buku” sejak mereka dipenjara dalam istana plastik dan mendekam di rak-rak toko. Berharap tak pernah ditemukan oleh pembaca.

Karena pembaca jahat akan mulai merusak plastik, istana mereka. Lalu, menghirup habis aroma kehidupan dalam setiap lembar pangeran “buku”.

Membiarkan rindu puteri “pembatas buku” semakin menjadi. Apalagi bila harus terpisah dengan jarak cukup jauh.

Sang pangeran “buku” akan digenggam mesra oleh pembaca sambil baring di kasur dan puteri “pembatas buku” akan tergeletak di permukaan kasur dekat bantal atau bahkan di meja dekat kasur.

Atau pembaca jahat akan menjadikan pangeran “buku” sebagai kawan perjalanan dan menggaulinya saat jeda atau menunggu. Dan membiarkan puteri “pembatas buku” terdiam di sela kantong tas dan akan selamanya disitu, kalau beruntung. Bila tak sedang beruntung, ia akan terjatuh di satu tempat antah berantah dan takkan ditemukan lagi.

Hingga suatu saat nanti, sang puteri “pembatas buku” takkan pernah dipersatukan lagi dengan pangeran “buku”.

Hari ke-13 #21HariTersenyum