Pembaca Diam

Untuk beberapa hari ini,

Saya lebih memilih menjadi “Pembaca Diam” untuk beberapa tulisan di blog-blog yang sudah masuk daftar bacaan dan para Penulisnya tetap eksis menulis meskipun tanpa menyadari bahwa mereka punya “Pembaca Diam”.

Saya lebih memilih menjadi “Pembaca Diam” untuk memperhatikan segala fenomena yang terjadi di hadapan Saya baik di dunia nyata maupun di dunia tidak nyata.

Saya lebih memilih menjadi “Pembaca Diam” untuk memperhatikan perkembangan kehidupan beberapa orang yang tidak menyadari bahwa Saya sedang memperhatikannya.

Kali ini Saya lebih senang memperhatikan segalanya sebagai “Pembaca Diam” meskipun hanya di balik jendela kecil (sebuah kiasan) yang sering jadi tameng untuk menyembunyikan keberadaan Saya. Mungkin karena dalam beberapa hal, Saya memang lebih menikmati peran menjadi pengamat.

Menjadi “Pembaca Diam” tidak berarti Saya tidak melakukan apa-apa dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar melainkan Saya memang lebih nyaman untuk memperhatikan ketika menjadi “Pembaca Diam”.

Menjadi “Pembaca Diam” membuat Saya lebih tulus kepada mereka karena Saya tidak berekspektasi apapun dari orang-orang yang Saya baca tulisannya, kehidupannya, dan perkembangannya.

Menjadi “Pembaca Diam” menyadarkan bahwa posisi Saya hanya sebagai orang yang senantiasa turut berbahagia bila tulisan kehidupannya berisi segala kebahagiaan, senantiasa berada di sekitarnya dan berdoa untuk kebahagiaannya (meskipun dari balik jendela) ketika ternyata tulisan kehidupan sedang menggoreskan ketidakbahagiaan.

2 thoughts on “Pembaca Diam

  1. saya malah dari awal jadi pembaca diam. hihihi…
    Kadang sesekali baru berkomentar, termasuk di blognya ica (ninja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *