Perindu yang Bertepuk Sebelah Tangan

Dear Kamu,
Iya, Kamu.
Bukan Ia, tapi Kamu.

“Gila, sungguh edan!”
Saking rindunya padamu, draft tulisan yang langsung kutulis di blog hingga 6 paragraf,harus lenyap. Tulisan mengenai kenangan tentangmu harus hilang tak tersimpan. Biasanya, sebelum menulis di blog, aku pasti menuliskannya terlebih dahulu di tempat lain. Entah, di selebaran kertas atau di catatan ponsel. Tapi, kali ini berbeda, karena objeknya adalah kamu. “Tak perlu proses edit dalam penulisan, bila membahas tentangmu,” pikirku.

Semesta sedang mengujiku. Ia sangka bisa membuatku menyerah. Kehilangan tulisanku, gegara melakukan pencarian di tab baru browserku, tak sedikit pun merusak moodku untuk menuliskan surat padamu. Surat berisi kata ‘rindu’ yang ingin kusampaikan padamu.

Sesuai rencana, bukan kamu objek suratku hari ini. Namun, aku tak bisa mengelak saat angin kerinduan berhembus. Logika pun lumpuh. Kuketik namamu di mesin pencari. Kubuka profil dunia mayamu. Kubaca aktivitasmu pada beberapa hari terakhir. Aku hanya perindu yang bertepuk sebelah tangan. Mencoba tegar menyaksikanmu dari jauh.

Untungnya, kamu tak perlu menyadari aksiku menguntitmu.
“dasar stalker,” kataku pada diri sendiri.
“biarkan, daripada saya tidak tidur karena dirundung rindu,” bela diriku.
Aku masih merinding kala membaca semua hal tentangmu. Rasa, harapan, dan kenangan itu masih ada.

Aku masih ingat saat meminta tolong padamu melalui chat facebook. Aku memohon untuk diunduhkan sealbum green day. Dalih yang kubuat agar bisa berjumpa denganmu. Padahal, komputer di rumahku bisa mengunduh filem sebesar 756 mb. Jauh lebih besar bila dibandingkan dengan permintaanku sealbum green day.

Aku benci saat kau tak datang tepat waktu. Aku harus menunggu lebih lama di tempat janjian kita, di emperan perpustakaan kampus. Aku, yang tak sabar ingin berjumpa denganmu, harus membeli pulsa di penjaga loket penyimpanan tas. Berbincang basa basi dengan penjaga loket, untuk mengusir jenuhku. Tak henti-hentinya kuperhatikan jam pada ponselku.

Saat kau datang dan berkata, “maaf, tadi ada teman datang di kos, jadi agak lama,” sambil merapikan rambut kriwilmu, aku seketika luluh. Aku mengabadikan aksi minta maafmu dengan kedua mataku, melalui lensa mataku, dan menyimpannya di memori otakku. Itu yang kusebut dengan kenangan.

Ada kenangan lain bersamamu yang tak mampu kulupa. Setelah perjumpaan saat itu, aku hanya mengambil flash disk berisi album green day yang telah kau unduh buatku. Lalu, kita berjalan menuju halte dekat baruga, tempat mahasiswa di wisuda, untuk mencari angkot buatku.

Saat akhirnya kita harus menyebrang, kau dengan gagah berani berdiri di samping kananku. Bersedia ditabrak lebih dulu saat ada kendaraan melaju kencang. Aku yang sebenarnya tahu cara menyebrang tetiba amnesia dan mengikuti alur yang kau cipta. Ahhh, mirip adegan film anak muda yang sering kunonton di TV.

Aku rindu bertemu denganmu, mengabadikan bayangmu di benakku. Aku rindu mendengar dialek kampung halamanmu yang menjadi aksenmu saat berbicara. Aku rindu menatap langsung kedua matamu. Meski agama menasehatkan untuk menundukkan pandangan. Maaf Tuhan, bila memang harapku ini salah, tolong hilangkan rasa rindu ini sebelum menjadi lebih parah.

Kata orang, tak ada yang kebetulan. Biasanya, saat kurindu padamu, kau akan hadir dengan cara yang unik. Kita mengobrol sekadar tanya kabar, ngobrol hal tak penting, dan kau akan pergi tanpa jejak saat rinduku terlunaskan. “Ahhh, hanya kejadian yang momentnya kebetulan pas,” pikirku menenangkan hati.

Aku tak tahu bagaimana takdirmu kelak. Pun dengan takdirku. Aku tahu kau pecinta setia yang gagal move on. Tapi, aktivitas dunia maya mu menyiratkan bahwa sekarang kau ahli move on.
“ahhh, jangan gede rasa, Ica. Wanita di dunia ini bukan hanya kau,” umpatku pada diri sendiri.
“Tak cukupkah berkali-kali patah hati menjadi karma bagimu?” diriku makin kesal pada diri sendiri.

Tulisan tentang lagu “the man who can’t be moved” yang pernah kutulis buatmu kembali teringat olehku. Harapku masih menginginkanmu kembali padaku. Meskipun akhir kisah hidup kita masih misteri, aku masih berharap kalau kisah kita berakhir bahagia. Kita dipersatukan dalam satu pelaminan. Berdiri berdampingan mengenakan gaun penganti dengan warna senada. Adegan yang sudah lama ku visualisasikan di benakku. Seperti akhir kisah dalam dongeng dan kisah roman lainnya.

Semoga engkau selalu sehat. Ayo kurangi merokok dan begadang. Ayo rajin berolahraga biar perutmu tak buncit. Doaku selalu menyertaimu.

Nurfaisyah

#harike3 #30HariMenulisSuratCinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *