Press "Enter" to skip to content

Sempurna Mengoyak Perasaan

Nurfaisyah 0

Terbangun di akhir pekan tanpa agenda rutin sebagai pekerja atau relawan anak. Bersantai jadi pilihan utama. Semua hal yang menyinggung tenggat waktu bisa menunggu di sore hari. Teringat tumpukan novel pinjaman dari Uci masih nongkrong cantik dalam kantok plastik bermerk toko buku besar. Kuambil secara acak novel berwarna merah. Perlu memicingkan mata tuk membaca slogan dengan warna senada dengan latarnya.

“Sebab mencintaimu tak membutuhkan alasan.”

Sempurna. Novel karya Nonier, seorang perempuan kelahiran Blora yang menggunakan kampung halamannya sebagai latar tempat dalam beberapa adegan di dalamnya. Genre novel ini bolehlah dimasukkan ke dalam daftar bacaanku. Wajar sih, karena dibawahi oleh Gagas Media. Tak perlu lebih dari 24 jam untuk menyelesaikannya. Intermezzo seru pada babak kehidupan dengan alur yang mulai menjemukan.

Sempurna_Nonier
Sempurna_Nonier

Setiap untaian paragraf ‘Sempurna’ tak mudah kuimajinasikan, entah sosok tokoh bahkan adegan romantis. Mungkin kemampuan visualisasiku tak satu frekuensi dengan gaya kepenulisan Nonier. Perasaan aneh, sebentar senang, kemudian murka, lalu senyum sendiri. Berhasil bikin seakan-akan jadi pasien bipolar. Pemilihan kata sederhana memudahkan saya melahap lembar demi lembar, hingga tak terasa sudah lembar 325 dengan kebebasan pembaca menentukan akhirnya.

Dua kali dicetak pada tahun yang sama bolehlah menjadikan novel ini layak dibaca. Bertaburan kutipan cinta dalam dialog yang tak menggurui dan jago banget bawa perasaan rindu muncul dari dasar permukaan. Gambar bunga berukiran menjadi pemanis pada tiap awal babak. Menyegarkan mata sebelum akhirnya jatuh pada drama percintaan yang kompleks.

‘Sempurna’ membangun cerita cinta yang rumit dan berhasil membuatku rindu seseorang. Setiap tokoh punya kesan unik. Awang, lekaki penyuka kopi. Kejora, wanita yang senang mencampuri urusan orang lain. Dimas, pria sok dewasa yang tak memberi kepastian. Jena, sukanya bikin kelabakan. Watik, pembantu kabur melulu. Keluarga para tokoh utama yang sangat ramah menjamu orang lain.

Sempurna_Nonier
Sempurna_Nonier

Lelah hati akibat terbuai dalam kisah pelik kehidupan percintaan membuatku menikmati nikmatnya tidur siang. Kala terbangun, kutersadar bahwa terakhir kali turut terbuai oleh perasaan bergejolak kisah fiktif seperti ini adalah saat menonton drama korea “Descendants of The Sun”. Padahal tak perlu menghabiskan energi terlalu banyak jika terjadi di kehidupan nyata.

Saatnya kembali ke dunia sebenarnya. Memposting ulasannya di blog. Menghabiskan banyak episode “Person of Interest” yang menunggu tuk dinonton. Menikmati akhir pekan yang akan bertukar peran dengan awal pekan. Menanti perpisahan dengan hari Ahad dan perjumpaan dengan hari Senin. Semangat pastinya, karena akan jadi hari pertama belajar menyetir. Yeayyy.

Sinopsi_Sempurna_Nonier
Sinopsi_Sempurna_Nonier

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *