Karangan Bebas

Sisi lain

14 Januari 2014

Ada yang tak biasa hari ini. Kamar gelap kini tersinari lampu remang-remang dari dinding sisi timur. Saya tak suka suasana ini. Kamar gelap kehilangan jati dirinya dan tak senyaman biasanya. Menampakkan segala hal yang tersembunyi.

Tumpukan cucian pakaian belum kering dalam baskom hitam mengisi satu sudut kamar. Sekeliling dinding kamar berwarna putih tulang kusam, dulunya berwarna putih bersih. Sungguh tak elok dipandang. Ada dua kalender tahun lalu menempel di dinding, masing-masing berada di dinding sisi barat dan utara. Sketsa wajahku berbingkai hitam tergantung berdampingan dengan kalender di sisi utara.

Kasur empuk merupakan spring bed dua susun. Sandarannya berada tepat di bawah kalender pada sisi barat. Ada sebotol minyak kayu putih bersemayam di sudut sandaran kasur empuk. Satu sisi kasur empuk tak tertutupi oleh seprei, menampakkan motif kartun hitam putih, ukuran sepreinya tak sebanding dengan ukuran kasur empuk. Kertas hasil print-an, buku diktat kuliah, dan alat tulis menulis, berserakan memenuhi susunan bagian bawah kasur empuk.

Saya berbaring pada susunan atas kasur empuk. Kutumpuk dua bantal dan kujadikan sebagai tempat bersandar, kutaruh sebuah guling di sampingku, dan sebuah bantal untuk menyangga kakiku. Ponsel kupegang erat sehingga bisa membelakangi arah datangnya sinar lampu, menghalangi silau. Selang beberapa lama, pada akhirnya ponsel Saya butuh asupan energi listrik.

Saya beranjak sejenak ke sumber energi, terletak pada dinding sisi timur, berdekatan dengan lampu dan kipas angin. Tiga lubang colokan sudah terisi semua, satu bagian untuk lampu, satu bagian untuk kipas angin, dan satu bagian merupakan sambungan dari kamar sebelah. Saya melepaskan colokan kipas angin dan menukarnya dengan colokan ponsel.

Saya kembali ke kasur empuk. Kuraih lembaran hasil print yang terabaikan. Perhatianku sempat teralihkan oleh ponsel. Kubaca dan kupahami sebagai persiapan ujian remedial dua hari berikutnya. Baru menyelesaikan dua kalimat pertama, ada rasa yang mengganjal. Hening. Saya bahkan bisa mendengar Mama yang sedang menggesekkan kukunya dari kamar sebelah. Tak ada riuh kipas angin yang biasanya menjadi lagu latar kamar gelap. Tak ada musik cempreng yang biasanya terputar dari speaker ponselku. Tak ada gemericik hujan yang biasanya terdengar dari luar jendela. Suasananya menjadi agak menyeramkan bagiku, aneh, dan membuatku seperti terasingkan di dunia lain. Saya lebih suka kalau ada keriuhan di sekitarku.

Saya bergerak mendekati colokan, mengungsikan colokan ponsel ke luar kamar, lalu menyalakan kipas angin. Saya kembali membaca dan mencoba memahami hasil print berisi materi ujian remedial.

Dalam hati, Saya berharap semoga ini ujian yang terakhir bagiku. Semoga Saya bisa menjawab dengan benar setiap soal. Kalaupun tidak, semoga Dosenku sedang mengantuk saat memeriksa lembar jawaban, sehingga beliau langsung memberi nilai benar. Semoga ilmu yang kuperoleh selama ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Tak kalah pentingnya, semoga saya bisa segera menikmati kamar gelap, zona nyamanku.

#Harike3 (lagi) #6HariMenulisCatatanHarian #KelasMenulis #KedaiBukuJenny #Cobatulisulanglagi

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply