Press "Enter" to skip to content

Toy Story 3 dan Mainan Masa Kecil

Nurfaisyah 0

Sejak keberadaan remote entah kemana, saya jarang nonton TV. Baca buku pada akhir pekan sudah mulai membosankan. Bacaan bulan ini didukung oleh Ams (teman Plurk) yang meminjamkan dua novel karya Mitch Albom dan Kak Ardhe (teman se-pergaulan komunitas) yang meminjamkan Madre karya Dee Lestari.

Sabtu malam, 1 Oktober 2016, saya berbaring di kamar bapak. Meraih remote dan mencari saluran TV seru. Tayangan situasi komedi sempat menarik perhatian saya. Namun, tak bertahan lama. Leluconnya tak asyik. Saluran lain didominasi sinetron remaja dan bukan masanya lagi tuk ikutan memuja para pemeran pria dengan setia menonton hingga habis.

Toy Story 3 baru saja tayang. Sepanjang sejarah Film Toy Story 3 beredar, sejak tahun 2010, malam ini merupakan pertama kali saya mengikutinya dari awal hingga akhir. Meski sudah sering ditayangkan di Global TV, baik Toy Story 1 maupun Toy Story 2, saya selalu menganggapnya angin lalu dan memilih tontonan lain.

Film animasi bergenre komedi dan petualangan ini mengangkat nilai kasih sayang. Tokoh Bonnie, gadis berusia 4 tahun dengan pipi kemerah-merahan, menyelamatkan Woody -mainan Andy-  yang tersangkut di pohon dan membawa pulang ke rumahnya. Setiba di rumah, Woody diajak bermain dengan mainannya. Bonnie bahkan mengabadikan mainan dengan menggambarnya. Lucunya, ada satu mainan bernama Chuckles’ digambari tersenyum, padahal aslinya memiliki ekspresi cemberut.

Sejenak, terbawa kembali pada kisah masa kecil. Saya pernah mematahkan bagian meja belajar pada lemari multifungsi. Saat itu, saya hendak meraih botol susu tuk boneka barbie. Tak mampu lagi kudeskripsikan sosok boneka masa kecil saya itu.

Saya menginjak meja di kamar bapak. Saat berhasil memperoleh botol susu, meja terbelah menjadi dua. Saya sendirian. Tak ada saksi mata. Saya takut. Bapak pasti akan marah. Keluar dari kamar, saya mendekati meja makan. Saya bercerita pada pengasuh. Kejadian setelahnya tak mampu diceritakan lebih lanjut karena ingatan hanya sampai segitu. Syukurnya, bapak tak marah. Kasihan boneka barbie milik saya, tak diperlakukan seperti mainan Bonnie.

Pemilik Woody, Andy, memberi semua mainannya pada Bonnie. Mereka main bersama sebelum akhirnya Andy lanjut pergi ke kampus. Meski berpindah kepemilikan, para mainan tetap merasakan kasih sayang.

Saya jadi penasaran, bagaimana cerita orang lain dengan mainan masa kecilnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *